A little something about you, the author. Nothing lengthy, just an overview.
Social Crime
Autor steven | 14.01.2010 | Category PC Media
Meskipun mempublikasikan informasi sensitif tentang diri sendiri memiliki risiko, tapi tiga dari empat orang tidak perduli dan terus melakukannya. Kenapa?
Selain mempermudah komunikasi, Internet dan media sosial yang sedang ngetren saat ini juga membantu para kriminal melaksanakan hajat mereka. Hari-hari dengan Facebook misalnya, dihiasi cerita penculikan anak dan penjarahan rumah. Pelakunya tak lain adalah salah satu “teman” virtual yang sudah di-add oleh korban. Dengan mengamati foto-foto dan update status, dengan mudah bisa diketahui jenis mobil dan rumah, pakaian dan pergaulan sosial, tempat liburan yang dikunjungi, serta jadwal tidak ada di rumah dan anak ditinggal sendiri.
Google Earth juga salah satu alat bantu menggiurkan bagi pencuri. Di California misalnya, tren penjarahan panel surya akhir-akhir ini meningkat. Setiap tidak berapa lama dipasang, walaupun di tengah kebun yang luas dan di pinggiran kota, para pencuri dengan cepat bisa tahu keberadaan barang yang setiap unitnya memang lumayan mahal ini.
Google Translate, penerjemah antarbahasa otomatis yang kualitasnya semakin hari semakin baik bahkan kini mengizinkan terjemahan chat/IM real-time ini, akan mempermudah para penipu dan spammer menyampaikan pesan jahat mereka pada orang-orang di seluruh dunia secara lebih efektif. Saat ini di kotak Inbox email saya sudah mulai menjumpai spam yang diterjemahkan mesin ke bahasa Indonesia walaupun persentasinya masih kecil. Di masa depan, kemungkinan besar jumlahnya akan meningkat.
Jepang, dan lebih spesifiknya Tokyo, adalah tempat yang relatif cukup aman dan minim kriminalitas. Kalau Anda gadis muda, Anda bisa berjalan sendirian malam-malam tanpa khawatir dicolek. Kalau ketinggalan HP atau laptop di kursi stasiun atau bangku kereta, 5-10 menit kemudian Anda bisa kembali ke tempat duduk semula dan barang Anda kemungkinan belum diembat orang. Tapi di sini juga berkembang modus penipuan popular yang mirip seperti di negara kita: menggunakan ponsel prabayar bahkan telepon umum biasa untuk memeras orang tua dengan mengatakan (atau cukup SMS) anak atau cucu mereka diculik dan harus ditebus. Bayangkan betapa lebih meyakinkannya nanti skenario ini dengan teknologi seperti alih suara dan muka digital yang beberapa waktu lalu didemokan di konferensi TED semakin popular.
Sebagian kriminalitas yang disebutkan ini sebetulnya bisa dicegah karena memanfaatkan informasi yang diterbitkan oleh kita sendiri, terutama lewat media sosial. Agar orang jahat tidak tahu banyak tentang kita, tinggal berhenti saja sembarang memposting informasi sensitif. Sederhana toh?
Nyatanya, banyak orang yang tetap saja tidak perduli membuka segala aspek tentang dirinya bagi publik. Twitter, misalnya, menarik karena beragam cara kreatif bahkan gila yang diciptakan orang dalam memakainya. Ada yang menggunakannya dalam program diet untuk menyiarkan berat badan setiap kali menimbang. Ada pula yang menghubungkannya dengan sistem GPS di mobil untuk mengizinkan semua orang melacak posisi berkendara. Dan ada yang menghubungkan akun Twitternya dengan sistem pembayaran online agar setiap kali berbelanja, di-tweet-lah informasi barang dan jumlah uang yang dihabiskan. Bisa dibayangkan bagaimana mudahnya informasi ini disalahgunakan pihak yang tidak bertanggung jawab. Tapi begitulah, orang-orang seperti ini dengan bangganya meneruskan living in public.
Berbagai teori bisa dikemukakan untuk menjelaskan kelakuan orang-orang seperti ini. Misalnya bahwa setiap orang dari kita sebetulnya selalu haus perhatian dan bermimpi jadi selebriti. Atau teori signalling, di mana orang memang merasa perlu untuk membuat orang lain tahu tentang status sosialnya, kemampuan, kekayaan, kepintaran, dsb karena sinyal ini akan memberikan keuntungan kepada si pembuat sinyal jika sinyalnya diterima orang-orang yang tepat. Buat apa pula pamer kalau memang tidak ada keuntungan yang diperoleh dari tindakan pamer tersebut? Para remaja berlomba-lomba menunjukkan punya teman paling banyak. Dengan menunjukkan sinyal bahwa kita popular, barangkali nanti kita akan menjadi popular. Bukankah seluruh industri mode juga didasari kebutuhan orang untuk pamer?
Saya ingin menambahkan satu teori kecil lagi: karena dunia kita dikuasai (sekitar 75%) oleh mereka yang ekstrover. Para ekstrover memang selalu ingin berinteraksi dengan orang lain, ingin menjadi pusat perhatian, ingin bertemu kenalan baru, dan juga lebih terbuka. Jika mayoritas populasi adalah introver seperti saya, barangkali Facebook dan seluruh situs media sosial lain tidak laku, dan harus banting setir. (PCMedia edisi Mar 2010)
Review netbook: Advan A1N-70TB dan Asus EEE PC S101
Autor stevenharyanto | 16.12.2009 | Category Catatan Kecil & Snippet
Saat ini produk netbook cukup popular. Penyebabnya, pertama: form factor yang pas. Berat hanya 1kg-an sehingga gadis remaja pun tidak terlalu kewalahan beban. Besar mirip buku/majalah A4-B5 sehingga bisa dijinjing atau masuk tas dengan mudah. Layar 9-11 inci dan resolusi 1024×600 tidaklah terlalu kecil sehingga berbagai aktivitas komputasi normal pun masih dapat dilakukan dengan nyaman. Dan kedua: harga relatif murah, apalagi dengan banjirnya produk-produk OEM/ODM dari China. Range saat ini sekitar 2,9jt s.d. 4jt-an.(update 2010-01-14) mulai dari di bawah 2jt sekarang.
Baru-baru ini saya berkesempatan mencoba 2 produk: Advan A1N-70TB dan Asus EEE PC S101. Keduanya saya instal Debian Lenny (sempat juga diinstali Ubuntu Karmic, tapi terasa berat, apalagi jika menggunakan KDE4, sehingga akhirnya dibalikkan ke Lenny).
Advan A1N-70TB
Advan adalah merek lokal dengan ODM dari China (atau Taiwan?). Spesifikasi tipikal: prosesor Atom N270, chipset grafik Intel, onboard audio, onboard LAN 100Mbit, RAM 1GB, harddisk SATA 160GB, 3 port USB, slot card reader, Wifi, webcam, tanpa OS. Tidak ada CD/DVD ROM. Bandrol harga 2,95jt.
Nilai positif:
- harga murah;
Nilai negatif:
- suspend bermasalah? ketika netbook ditutup, tidak otomatis suspend, dicoba dengan perintah pm-suspend + berbagai kombinasi –quirk pun gagal. Sementara hibernate bisa berjalan jika menggunakan pm-hibernate (tapi dari GUI KDE gagal). Mungkin di Windows semua oke-oke saja?
- setting default kombinasi key yang brain-dead. Seperti kebanyakan netbook, tombol panah kiri/kanan/atas/bawah dirangkap dengan Home/End/PgUp/PgDn. Tapi, alih-alih menggunakan tombol modifier Fn seperti di Asus, Advan ini menggunakan Shift. Shift! Jelas saja jadi bentrok dengan shortcut-shortcut untuk selection. Untuk menghasilkan PgDn kita harus menekan Shift-Left. Bagaimana kalau ingin Shift-PgDn, atau Shift-Left? Tidak bisa (sebetulnya bisa, tapi ribet). Catatan: setting ini tentu bisa dimodifikasi dengan xmodmap dsb, tapi tetap saja merepotkan.
- layar terlalu reflektif. Cocok buat yang narsis atau suka dandan, tapi mengganggu terutama jika background desktop Anda sedang berwarna gelap/hitam.
- panas. Terutama daerah kiri bawah (daerah tombol Ctrl kiri, Shift kiri). Kelingking jari kiri saya sampai terasa terus panas/hangatnya walaupun sudah tidak mengetik.
Catatan lain:
- speaker tidak bisa bunyi di Debian. Di Windows nampaknya jalan dengan normal.
Asus EEE PC S101
Asus adalah pelopor revolusi netbook. Model EEE PC S101 ini speknya: Atom N270, chipset grafik Intel, RAM 1GB, SSD 32GB, onboard audio, onboard LAN 100Mbit, 3 port USB, slot card reader (bonus SD card 4GB), wifi, webcam. Tidak ada CD/DVD ROM. Bandrol harga 3,6jt (4,xjt jika ditambah Windows XP orisinil).
Secara keseluruhan, Asus ini desain hardwarenya jauh lebih elegan/mewah daripada Advan yang polos/membosankan. Tombol-tombol keyboardnya diberi glitter. Keseluruhan bodi hitam dan paruh atasnya mengkilat. Layar tidak sereflektif Advan. Porsi logam lebih banyak. Area untuk trackmouse lebih besar.
Nilai positif:
- desain yang cantik dan elegan;
- tipis;
- penggunaan SSD ketimbang harddisk magnetik biasa membuatnya lebih ringan, silent, dingin, dan irit daya. Apalagi dengan tatakan di kiri dan kanan trackmouse yang terbuat dari logam, membuat tangan kita jadi dingin saat mengetik. Nyaman sekali.
Nilai negatif:
- Disk sekitar 2x lebih lambat daripada harddisk biasa. Menginstal Debian dari DVD sampai selesai rasanya lama banget (> 1 jam!), jauh ketimbang menginstal di Advan yang kecepatannya mirip seperti menginstal di PC.
- Layout keyboard juga bermasalah sedikit dengan Shift kanan yang berada di sebelah kanan tombol panah atas. Perlu waktu beberapa hari sampai benar-benar terbiasa.
- Kapasitas harddisk yang kecil. Buat saya pribadi 32GB sudah cukup, tapi mungkin bagi Anda tidak.
Kesimpulan
Ciri khas laptop kelas netbook ada dua. Pertama, layout keyboard yang sedikit berbeda-beda dari satu model ke model lain. Masalah paten? Diferensiasi produk? Rata-rata layout tombol panahnya mengikuti EEE yaitu penggabungan atas/bawah/kiri/kanan dengan PgUp/Dn/Home/End. Tapi ada juga model lain seperti Toshiba yang tombol PgUp-PgDn-nya memisah, di kanan atas tombol panah sementara Home-End-nya jauh di atas dekat layar. Ada juga model lain yang tombolnya kecil-kecil untuk menyisakan jarak antara tombol. Tombol-tombol di dekat Enter juga sebagian ada yang dipersempit. Variasi-variasi ini cukup mengganggu, tapi Anda bisa mulai terbiasa dalam beberapa jam hingga hari.
Ciri khas kedua: kualitas/kehandalan hardware yang crappy! Advan yang saya coba pertama mengalami masalah dengan ethernet yang tidak jalan dan juga harddisk yang langsung bad sector setelah seminggu (walaupun ini salah saya juga yang menggunakan netbook di tengah jalan yang tidak mulus). Asus pun tidak luput dari masalah hardware: belum sebulan DVD ROM yang dikonek ke USB sering disconnect. Koneksi LAN pun sering putus dengan pesan corrupted MAC on input (tapi ini masalah dengan driver). Intinya, harga bicara.
Entah bagaimana nanti jika smartbook semakin ngetren: variasi layout keyboard dan crappy hardware akan semakin merajalela?
Di antara dua netbook tersebut, saya lebih prefer yang Asus karena desainnya lebih bagus dan lebih nyaman digunakan. Sejatinya netbook memang cocok dipadukan dengan SSD supaya lebih dingin, silent, dan irit listrik. Belum lagi tahan goncang, sehingga memberi Anda kebebasan memakai netbook ini di mana saja (di dalam mobil berjalan, misalnya). Soal kecepatan yang lebih lambat dan kapasitas yang lebih kecil tentunya akan bisa diperbaiki dengan teknologi SSD mendatang. Hanya saja, sulit sekali mencari netbook dengan SSD. Hampir semua model yang ada di pasaran berbasis harddisk.
Buku hardcover impor di Gramedia
Autor stevenharyanto | 16.12.2009 | Category Catatan Kecil & Snippet
Di luar negeri, untuk sebuah judul buku nonfiksi baru biasanya edisi hardcover-nya terbit lebih dulu satu hingga beberapa bulan ketimbang edisi paperbacknya. Tujuannya adalah, agar orang yang tidak sabar untuk segera memiliki buku baru dan rela merogoh kocek lebih dalam, bisa segera membelinya. Sementara orang-orang lain yang lebih sensitif harga dipersilakan menunggu sampai paperback-nya keluar. Ini analogi dengan kasus gadget atau prosesor baru yang dibandrol mahal ketika baru keluar, dan lalu turun beberapa minggu-bulan kemudian.
Di toko-toko buku luar, saya mengamati buku-buku nonfiksi yang lebih banyak dipajang adalah yang paperback. Ini wajar, karena rata-rata judul bukan baru lagi, sehingga mayoritas tersedia dalam edisi paperback, bahkan edisi paperback yang murah banget (MMP/pocket books, yang ukurannya lebih kecil dari edisi hard-nya, tidak berilustrasi, kertas daur ulang, dsb). Harganya paling cuma $10-an untuk yang hard-nya sekitar $30-an. Sementara paperback normal bisa $20-an.
Di Kinokuniya atau Aksara kasusnya juga serupa.
Tapi Gramedia beda sendiri. Mayoritas buku nonfiksi impor tersedia hanya dalam hardcover. Kenapa?
Tebakan saya: profil pengunjung Gramedia memang berbeda. Mayoritas pengunjung Gramedia adalah pembaca buku lokal, yang sesekali membeli buku impor untuk koleksi. Tujuan koleksi ini juga lebih masuk akal mengingat harga buku impor yang relatif mahal (di Amrik sana, harga buku hanya sekitar 1-2x makan di MacDonalds atau setara sekitar 1-2 jam upah, sementara harga buku impor di sini bisa untuk 10-20x makan di MacD, 50-100x makan warteg, atau setara dengan berhari-hari upah). Untuk koleksi, edisi hardcover yang lebih cocok. Dan karena itu pulalah Gramedia banyak menyetok buku-buku hardcover lama yang sudah jadi bestseller, macam Predictably Irrational (bosan banget rasanya melihat judul ini bertengger terus sejak lama di salah satu gerai Gramedia Bandung).
Satu hal lagi yang menyebalkan di Gramedia, buku-buku impornya di-shrinkwrap semua. Sulit beli kucing jika hanya boleh membaca tulisan di karungnya. Sementara, Kinokuniya dan Aksara sedikit lebih mahal-mahal harganya (walau berbeda dari judul ke judul). Jadi, triknya, browsing di Aksara, beli di Gramedia
Ah, tapi harga buku yang relatif sangat sangat mahal di Indonesia membuat saya ingin cepat-cepat mendekap Kindle atau Sony PRS. (Yup, Nook tidak masuk hitungan, karena saat ini ASCII-only).
Mobil dan Jalan Tol
Autor steven | 10.12.2009 | Category PC Media
Apa persamaan Google dengan Jasa Marga? Apa persamaan Microsoft dengan Toyota dan GM?
1-2 tahun terakhir ini Google makin terobsesi dengan satu hal: kecepatan. Paruh akhir 2008, Google mengumumkan akan membuat browser sendiri. Alasannya? Semua browser yang ada terlalu lambat! Terutama dalam mengeksekusi Javascript. Maka lahirlah Chrome dan mesin Javascript v8, dan dimulailah era Perang Browser II. Musim panas 2009 saat orang-orang asyik berlibur, tim Google sibuk menguji infrastruktur pencarian baru yang dijuluki Caffeine. Kelebihannya? Dapat mengembalikan hasil dua kali lebih cepat.
Nov 2009, bahasa pemrograman Go dirilis. Titik berat utama bahasa ini? Kecepatan eksekusi dan kompilasi, dan juga paralelisme. Masih di bulan yang sama, diperkenalkan protokol SPDY. Kehebatannya? Mempercepat HTTP hingga 2x. Des 2009, Google menyuguhkan Site Performance Tools. Gunanya? Membantu webmaster mempercepat situs mereka. Terakhir sebagai bonus akhir tahun 2009, Google Public DNS. Tujuannya? Meng-cache query DNS untuk mempercepat browsing.
Rupanya demam kecepatan ini berawal dari eksperimen terhadap pengguna yang dilakukan beberapa tahun lalu. Halaman hasil pencarian Google defaultnya memberikan 10 hasil. Pengguna meminta lebih. Namun ketika ditambah menjadi 30, trafik dan juga perolehan iklan merosot 20%. Mengapa? Usut punya usut, ternyata ini karena halaman dengan 10 hasil butuh waktu cari 0,4 detik sementara halaman dengan 30 hasil butuh 0,9 detik. Selisih yang kecil memang, tapi ternyata tetap berefek menurunkan kepuasan pelanggan. Jelas, pengguna tidak suka menunggu. Maka mulai saat itu “cepat” menjadi salah satu mantra di markas Google.
Tentu, alasan “ingin memuaskan pengguna yang tak sabar” yang dikemukakan Google saat Konferensi Web 2.0 tahun 2006 tersebut sebetulnya sekadar bahasa halus untuk “ingin menggeber pendapatan”. Kalau kita pikir, daripada menampilkan 1 halaman berisi 30 hasil, bukankah lebih menguntungkan menampilkan 3 halaman dengan 10 hasil? Karena jumlah iklan yang bisa muncul lebih banyak. Dan peluang Google mendapatkan pemasukan dari klik akan menjadi lebih besar. Salah satu subfokus penting yang ingin dicapai Google dengan DNS publik, protokol SPDY, dan Webmaster Tools adalah mengurangi latensi Web. Lebih kecil latensi, maka orang akan lebih banyak mengklik halaman. Lebih banyak pageview, lebih banyak impresi iklan. Maka akan lebih banyak klik dan lebih banyak dolar.
Lain Google, lain pula Microsoft. Pendapatan mayoritas Microsoft masih dari penjualan perangkat lunak dan solusi di seputarnya. Sampai pada tahapan tertentu, semakin perangkat lunak menjadi kompleks dan lambat, sebetulnya semakin besar pulalah peluang meraup keuntungan. Pertama, hal ini memaksa upgrade ke komputer yang lebih cepat, yang pada gilirannya akan pula mengharuskan kita membeli lisensi OS baru. Tidak perlu ditanyakan lagi betapa besar “cinta” Intel pada Microsoft karena hal ini, dan betapa keduanya seiring sejalan hingga sekarang. Kedua, kompleksitas juga menimbulkan banyak kebutuhan akan support, mulai dari antivirus dan konsultan sekuriti, servis upgrade dan reparasi, pelatihan dan sertifikasi, lisensi compliance, dsb yang dengan senang hati akan dipenuhi oleh para penyedia yang bermunculan, termasuk oleh Microsoft sendiri.
Ini sebagian karena kesalahan kita juga yang kadang irasional. Mana perangkat lunak yang Anda nilai lebih canggih dan nilainya lebih mahal? Yang besar instalernya 2MB dan dapat diinstal hanya dalam 5 detik, atau yang besarnya 100MB dan proses instalasinya 20-30 menit? Asumsi kita tentu yang kedua. Karena itu jangan berharap di tahun 2010, walaupun secara teknis mungkin, Microsoft tiba-tiba mengeluarkan OS PC versi baru yang lebih kecil, simpel, dapat diinstal dalam 5 menit, dan dijalankan komputer Pentium IV tua dengan RAM 256MB.
Microsoft bisa dianalogikan dengan produsen otomotif besar dunia Toyota, Honda, GM yang ragu/malas berpindah ke mobil elektrik murni dalam waktu dekat, walaupun secara teknologi tidak masalah. Mekanisme mobil elektrik jauh lebih sederhana, jumlah komponennya jauh lebih sedikit, belum lagi lebih ringan. Namun apa yang ditempuh para produsen? Mendorong produk hybrid, yang menggabungkan kompleksitas/berat mesin tradisional dan mesin listrik di dalam satu bodi! Tujuannya? Untuk melindungi investasi dan pemasukan serta segala macam bisnis seputar mobil tradisional seperti produsen dan peritel spare part, bengkel, industri BBM, dsb.
Sementara Google bisa dianalogikan seperti operator jalan tol. Ingin semua serba lancar sehingga setiap hari bisa mengutip receh dari jutaan mobil yang lewat. Namun yang menarik adalah, semakin lama semakin terlihat bahwa si operator jalan tol ingin memberi mobil dan bensin gratis bagi semua orang, dan menerima pemasukan iklan display di sepanjang jalan tol. (PCMedia edisi Feb 2010)
Arti Sebuah Nama
Autor steven | 10.12.2009 | Category PC Media
Apakah merilis perangkat lunak untuk menguraikan (parsing) nama orang dengan tujuan mengetahui gender, agama, suku, golongan, termasuk ke dalam tindakan terlarang?
“What’s in a name?” Apalah arti sebuah nama, begitu tulis Shakespeare. “That which we call a rose. By any other name would smell as sweet.” Atau diterjemahkan, terasi dibilang mawar pun tetap bau.
Tentu saja, dalam kenyataan, sebuah nama biasanya mengandung banyak arti, karena kita memberi nama tidak secara acak melainkan disertai asosiasi, maksud, ekspresi, atau harapan tertentu. Saya ingat saat sebuah serial drama Jepang 1980-an beken di Indonesia, dari anak kenalan sampai anjing tetangga diberi nama Oshin. Jiwa setiap zaman dan budaya terjejak dalam nama-nama yang diberikan pada era/kultur tersebut. Masa revolusi dan perjuangan China dulu banyak bayi lelaki diberi nama Jian Guo (bangun negara) atau Guo Qing (hari kemerdekaan). Di Internet, muncul situs-situs bernama aneh seperti digg, reddit, twitter, semuanya karena ingin nama yang pendek di tengah kelangkaan domain .com.
Baru-baru ini saya menulis 2 buah modul kecil dalam bahasa pemrograman Perl, yang satu untuk menebak gender nama orang berdasarkan nama depan (menurut statistik dan sejumlah aturan heuristik), dan yang satu lagi untuk mengurai sebuah nama menjadi komponen-komponennya. Pada waktu Anda membaca tulisan ini, kemungkinan kedua modul tersebut sudah bertengger di situs repositori Perl CPAN.
Berbeda dengan beberapa modul serupa yang sudah ditulis untuk bahasa lain seperti Inggris yang hanya berkutat soal penebakan gender, modul pengurai nama Indonesia ini saya lengkapi dengan rutin untuk mengekstrak segala macam aspek yang memang terindikasi dalam nama. Termasuk agama (dari keberadaan titel seperti Haji/Hj, nama depan seperti Muhammad/Muh, atau singkatan nama baptis seperti FX), suku/etnik (dari pola penamaan tertentu misalnya di Bali dengan nama-nama seperti I Gusti Agung atau Ni Made, di Jawa dengan Raden, atau dari nama depan/marga yang amat khas seperti Liem untuk etnik China, Siregar untuk Batak, dll), hingga profesi/tingkat pendidikan (dari titel akademik). Sudah sangat “SARA” bukan? Tapi apa yang sebetulnya dimaksud dengan isu SARA?
Modul penebak gender biasanya digunakan untuk memberi kata sapaan yang cocok (bisa Bapak atau Ibu) saat menulis surat/email, karena ada studi yang mengatakan bahwa penyebutan kata sapaan yang salah dapat mengurangi efektivitas/tingkat respon/dsb (selain tentunya menyinggung perasaan!). Namun modul pengurai nama saya ini, termasuk alat bantu lain seperti perangkat lunak pendeteksi ras dalam foto wajah, dapat membantu proses diskriminasi lebih lanjut. Bayangkan proses penyaringan mahasiswa/karyawan/pejabat yang kini dapat lebih praktis dalam membuang calon tak diinginkan dari ras, suku, agama/keyakinan tertentu.
Saya sempat ragu sesaat untuk tidak jadi merilis modul ini, namun berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di bawah, akhirnya saya berkeputusan untuk tetap merilisnya.
Pertama, perangkat lunak semacam ini tidak membuat jadi mungkin diskriminasi yang sebelumnya tidak dimungkinkan. Maksudnya adalah, semua informasi untuk diskriminasi seperti agama, suku, gender, dsb tersebut sebetulnya sudah terkandung di dalam nama itu sendiri. Perangkat lunak hanya merupakan enkoding informasi ini dalam bentuk instruksi komputer. Entah karena kebanggaan, kebiasaan, atau untuk meneruskan garis keturunan, orang tetap mencantumkan berbagai elemen indikator ke dalam nama mereka, walaupun konsekuensinya mempermudah dirinya didiskriminasi berdasarkan nama.
Kedua, argumen “pedang bermata dua”. Sama seperti senjata pisau atau senapan yang bisa digunakan untuk membunuh maupun menyelamatkan, memulai atau menghentikan perang, demikian juga perangkat lunak dapat dipakai oleh polisi untuk melakukan racial profiling ataupun bagi para organisasi untuk melaksanakan affirmative action. Keberadaan perangkat lunak itu sendiri tidak mengubah kecenderungan ke arah salah satu.
Ketiga, dalam kaitannya dengan SARA, UU ITE di Bab tentang perbuatan yang dilarang menyebutkan bahwa hanya informasi yang ditujukan untuk menimbulkan kebencian atau permusuhan antarindividu/antargolonganlah yang termasuk dilarang disebarkan. Perangkat lunak pengurai (parser) sama sekali tidak dibibiti informasi kebencian/permusuhan.
Bagaimana menurut pandangan para pembaca? Saya menanti masukan dari Anda semua. Apakah merilis perangkat lunak untuk menguraikan (parsing) nama orang dengan tujuan mengetahui gender, agama, suku, golongan, termasuk ke dalam tindakan terlarang? (PCMedia Edisi Jan 2010)
Link: Blog Perl Indonesia
Autor stevenharyanto | 15.10.2009 | Category Proyek
Sebuah blog baru tentang Perl dalam bahasa Indonesia (dan Inggris) telah dimulai. Masih menerima kontributor lain. Buat para penggemar Perl di Indonesia, gabung ya. Terima kasih.
Bapak Amrik, Ibu Taiwan
Autor steven | 13.10.2009 | Category PC Media
Kenapa hampir semua motherboard diproduksi perusahaan-perusahaan dari Taiwan, sementara perusahaan Amrik tetap menjadi raja prosesor?
Di tempat saya bekerja kami harus sering membeli PC desktop dan server baru. Komponen PC yang relatif paling sulit dipilih biasanya adalah motherboard, karena banyaknya konfigurasi berbeda: tipe soket, chipset, jumlah slot memori, kapasitas maksimal per keping dan total, dukungan ECC/FB-DIMM, jumlah port SATA, dlsb. Namun, ada satu hal yang sama: hampir semua merek-merek mobo mulai dari ASUS, ASRock, GIGABYTE, ECS, Biostar, DFI, Tyan, MSI, hingga ABIT yang sudah bangkrut adalah milik perusahaan Taiwan. Sejak 1980-an, mobo Taiwan memang sudah popular dan pangsa pasarnya pun meningkat terus, hingga 2008 mencapai di atas 95%, sebuah angka yang amat dominan. Kenapa?
Dominasi pemain lama secara konsisten di sebuah pasar biasanya disebabkan beberapa hal: pemain lama secara konsisten memang unggul, penggunaan kekuatan monopoli untuk menghadang pemain baru masuk, atau tingkat marjin keuntungan tipis dan skala besar yang membuat pemain baru secara alami tidak tertarik/sulit masuk.
Mobo. Dalam kasus mobo, tidak ada penyalahgunaan monopoli. Industri mobo pada dasarnya kini hanyalah industri rakitan. Hampir semua fungsionalitas sudah disediakan prosesor/chipset buatan produsen lain, dari fungsi kontrol memori hingga nanti pemrosesan grafis hingga I/O. Pembuat mobo hanya perlu merangkai berbagai komponen chipset dan berbagai colokan/slot/soket di atas PCB. Itupun desain panduannya sudah disediakan pembuat prosesor/chipset, tinggal dimodif-modif saja. Pemain baru yang ingin masuk tidak perlu membayar lisensi pada pemain mobo lama karena tidak ada teknologi rahasia dalam membuat mobo.
Rahasia kesuksesan Taiwan karena beberapa faktor. Pertama, inisiatif pemerintah Taiwan menggalakkan industri di akhir 1970-an timing-nya tepat dengan perkembangan motherboard PC yang diawali Apple II dan IBM PC awal 1980-an. (Sementara, jika dibandingkan dengan Korea yang booming industrinya lebih awal antara 1960-1980, industri yang lebih sukses adalah keping RAM karena RAM memang berkembangnya duluan sejak awal 1970-an untuk komputer mini dan mainframe.) Perusahaan-perusahaan Taiwan mendapat order dari Apple, IBM, dan belakangan Intel/AMD untuk memproduksi mobo secara masal. Kalau dilihat, banyak perusahaan mobo besar Taiwan yang lahirnya pada dekade ‘80-an (sebagian didirikan mantan karyawan IBM/Intel).
Kedua, lokasi strategis Taiwan yang dekat dengan China maupun Hongkong/Jepang membuatnya mendapat akses ke tenaga kerja murah maupun relasi bisnis. Sejak 1990-an perusahaan Taiwan sudah mulai merelokasi pabriknya ke daerah seperti Shenzhen, China karena tenaga kerja murah, insentif pajak, serta dekat dengan pabrik-pabrik komponen mobo lain, sehingga sebuah mobo dapat dirakit lebih murah dari awal hingga akhir dalam satu lokasi saja. Sementara perusahaan mobo Amrik seperti Soyo gulung tikar karena keberatan biaya kirim.
Ketiga, perusahaan-perusahaan mobo Taiwan juga tidak hanya 1-2 tapi ada banyak sehingga saling bersaing sengit dalam harga/fitur. Ini semakin menekan pemain lain. Perusahaan Amrik seperti Intel dan SuperMicro harus puas hanya bermain di pasar premium. Sementara pesaing dari China pun masih belum mampu merangsek, mengindikasikan bahwa marjin keuntungan memang sudah cukup mepet. Perusahaan kecil juga sulit masuk karena lisensi chipset dari Intel/AMD yang harus dibayar besar di awal, sehingga semakin banyak jumlah unit yang diproduksi maka semakin irit biaya produksi per unit.
Prosesor. Di lain pihak, pilihan prosesor komputer kita tetaplah made in Amrik, seperti Intel dan AMD (ARM dari Inggris mulai mencoba menantang Intel tahun ini). Dibandingkan mobo, prosesor masih merupakan bisnis desain yang membutuhkan teknik tinggi sehingga outsourcing rendah biaya seperti ke China tidak masuk akal di sini. Kita masih harus mengakui keunggulan pengalaman dan keahlian para insinyur Amrik, karena penantang dari Taiwan seperti VIA sejauh ini pun belum mampu menandingi kinerja chip Intel/AMD.
Berbeda dengan perangkat lunak yang amat demokratis dengan revolusi open source-nya, teknologi desain perangkat keras ketat dilindungi paten. Pemain baru harus tunduk pada persyaratan pemain lama jika ingin dapat lisensi. Intel misalnya, amat memanfaatkan posisi dominannya di sini. Dulu 2001 saat demam Rambus, Intel hanya mau memberi lisensi chipset pada perusahaan lain jika mereka ikut mendukung teknologi RDRAM. Baru-baru ini pun nVidia terdesak keluar dari bisnis chipset karena masalah lisensi bus DMI dengan Intel.
Itulah sebabnya bapak kita masih Amrik dan ibu kita Taiwan. Kapan anak-anak dari Indonesia bisa berkiprah? Nampaknya masih lama. (PCMedia Des 2009)
Menunggu Kematian SMS (Yang Tak Kunjung Tiba)
Autor steven | 25.08.2009 | Category PC Media
Di saat pemilik jejaring sosial seperti MySpace dan Facebook rajin menggiring para spammer ke meja hijau dengan nilai tuntutan hingga ratusan juta dolar, para operator selular di Indonesia malah rajin menyepam pengguna jaringannya sendiri dengan pesan-pesan iklan SMS.
Dibandingkan dengan para operator layanan lain yang pernah saya pakai, seperti telepon rumah, TV kabel, penyeranta (masih ingat?), ISP, atau webhosting, hanya operator selularlah yang paling berani membombardir pelanggannya dengan pesan iklan hampir setiap hari. Tanpa memberitahu cara berhenti, bahkan tanpa mau berhenti walau sudah diminta. Saya ingat dulu ketika berlangganan ISP dialup seperti CBN dan Centrin, pesan email yang diterima pengelola umumnya hanyalah: tagihan sekali sebulan, ucapan Lebaran/Natal, plus ucapan selamat ultah. Bagai langit dan bumi dibandingkan operator selular saat ini.
Kini setiap Anda mengecek pulsa, mengirim 1-2 SMS, atau melakukan panggilan, harap maklum kalau dibalas dengan embel-embel iklan. Selain menawarkan layanan-layanan miliknya sendiri seperti ring back tone, konten lain, atau lelang-lelangan, operator pun ditengarai sering menjual database pelanggannya kepada pihak ketiga agar si pihak ketiga dapat beriklan ke para pengguna selular berdasarkan kota/daerah, komunitas, atau atribut lain. Kelakuan-kelakuan seperti ini sudah mirip sekali spammer-spammer yang biasa beroperasi di Internet.
Beberapa orang malang sampai mengaku, akhir-akhir ini menerima SMS dari operator lebih banyak ketimbang dari rekan-rekannya. Suatu hal yang ironis, karena sebetulnya kita berlangganan jaringan selular untuk berkomunikasi dengan orang lain, bukan dengan operator.
Sebetulnya bukan di Indonesia saja spam dari operator ini terjadi, namun di luar negeri kontrol hukum dan tingkat edukasi yang lebih tinggi, serta tingkat toleransi pengguna yang lebih rendah terhadap spam, membuat sepak terjang operator lebih terbatasi. Begitu mengirim sejumlah spam, sebuah operator di Denmark langsung kena denda beberapa miliar. Di Amrik, sebagian operator membebani penerima SMS dengan biaya pengiriman, sehingga setiap pesan tak diinginkan yang diterima pengguna tentu akan menimbulkan reaksi alergi yang lebih dahsyat.
Andaipun kelak spam SMS dari operator berkurang karena tindakan hukum, SMS tetaplah sebuah cara komunikasi mobile primitif yang memiliki beberapa kekurangan seperti biaya per karakter yang amat mahal, reliabilitas yang tidak seragam antaroperator, sifat jaringan yang tertutup, serta fitur yang miskin. Karena itulah, meskipun telah melalui berbagai kenangan manis dan pahit bersama SMS, saya berharap sepenuhnya agar SMS cepat mati.
Sayangnya, keinginan saya ini nampaknya akan lama sekali baru akan terkabul. Walaupun SMS sejak beberapa tahun lalu telah diprediksi analis akan mulai meredup seiring hadirnya broadband nirkabel, mobile IM, mobile email, sampai tahun 2009 ini, trafik SMS tidak sedikit menunjukkan tren penurunan, malah terus menanjak. Kenapa SMS masih akan terus hidup? Pertama, karena belum ada alternatif lain yang memberikan keuntungan lebih besar. SMS tetap menjadi sapi perah gemuk bagi operator (pendapatan global dari SMS sekitar $54 miliar). Bayangkan, hanya dari mengirim 10-20 kata operator bisa meraup Rp 2000 sementara koran berisi ribuan kata pun hanya memasang harga Rp 1000. Karena itu operator akan berupaya sekuat tenaga mempertahankan popularitas SMS dengan segala cara.
Kedua, karena belum ada alternatif text messaging lain yang lebih sederhana, praktis, universal di ponsel. Untuk ber-YM, beremail, atau bertwitter ria di ponsel bagi orang awam masih 100x lebih sulit daripada mengirimkan SMS karena butuh program tambahan dan/atau akun ekstra. Layanan email/messaging seperti BlackBerry sudah mendekati, tapi tidak universal dan sama-sama bersifat tertutup, jadi no thanks.
Mari sedikit berhitung. Pengguna selular di negara kita saat ini (tahun 2009) sekitar 125 juta. Jika para operator mengirimkan 1 pesan iklan setiap 2 hari, maka dalam setahun terkirim 22,8 miliar pesan SMS. PDB per kapita kita sebesar $3.987, alias Rp 3,3jutaan/bulan, alias sekitar Rp 22.780,- per jam (dengan asumsi 250 hari kerja dan 7 jam kerja per hari). Jika waktu rata-rata yang terbuang untuk melihat iklan sebesar 10 detik per pesan SMS, total kerugian produktivitas yang terjadi adalah 10/3600 x Rp 22.780,- x 22,8 miliar SMS = Rp 1,44 triliun. Nilai sebesar ini sebetulnya sudah cukup untuk modal mendirikan sebuah operator selular baru yang tidak gemar menyepam dan benar-benar “baik” (bukan sekadar slogan iklan). (PCMedia, edisi Nov 2009)
Empati untuk Microsoft
Autor stevenharyanto | 12.08.2009 | Category PC Media
Bulan-bulan ke depan akan semakin menarik lagi menyaksikan layar kaca—atau mungkin layar cair, bagi yang sudah memakai LCD. Pertempuran kedua raksasa Microsoft dan Google semakin full body contact. “Perang dunia digital” ini bahkan ditengarai akan lebih dahsyat dari perang browser dan duel Intel-AMD dekade silam.
Dalam kecepatan yang kian meninggi, Google melancarkan serangan demi serangan yang kian frontal: Google Docs, Android, Chrome, dan kini Chrome OS yang akan langsung menantang Windows. Microsoft pun tak mau kalah. Setelah melalui beberapa reinkarnasi, akhirnya lewat Bing Microsoft mulai mampu merangsek pangsa pasar pencarian Google. Hanya dalam 2-3 bulan porsi Bing kini sudah lebih dari 10%. Salah satunya karena kesepakatan baru Microsoft-Yahoo!
Di pertandingan multironde hingga beberapa tahun ke depan ini, tantangan bagi Microsoft nampaknya yang lebih berat. Pertama, Microsoft punya musuh terbesar bernama Microsoft. Microsoft adalah korban kesuksesannya sendiri. Setelah rilis demi rilis yang semakin matang dan kaya fitur, akhirnya mayoritas perangkat lunak Microsoft berada pada tingkat good enough. Upgrade semakin jarang karena orang sudah puas dengan versi lama. Berbeda dengan perangkat keras yang berkarat dan aus, atau layanan online yang harus “dicolok” agar bisa terus dinikmati, sekali perangkat lunak terpakai, ia akan dapat digunakan terus karena sifatnya abadi.
Baik Windows, IE, MS Office masing-masing pernah menikmati masa emas meraih pangsa pasar lebih dari 95%. Suatu angka fantastis yang hanya bisa dimimpikan perusahaan lain, namun juga berarti tidak ada jalan lagi ke depannya selain turun. Kuartal empat 2008 lalu menjadi saksi hal ini. Di saat Apple dan Google masih bisa bertumbuh di dalam kondisi ekonomi resesi, penjualan Microsoft jeblok hingga hampir 6%.
Kedua, hampir semua tren dunia TI saat ini kurang berpihak kepada Microsoft. Selama hampir tiga dasawarsa Microsoft telah menginvestasikan miliaran dolar dalam bentuk kode tertutup seperti Windows dan Office yang semakin tua dan ruwet, sementara revolusi open source telah memberikan keuntungan “gratis” bagi pesaingnya. Tanpa open source, tidak akan hadir OS X, Safari, Chrome, Android, dan Chrome OS begitu cepat. Apple dan Google cukup menggaji beberapa puluh pengembang brilian yang bersemangat mengerjakan proyek open source, sementara Microsoft harus mengerahkan ribuan.
Popularitas ponsel pintar yang gila-gilaan mengorbitkan beberapa jawara baru, tapi Microsoft bukan pemain dominan di sini. Netbook yang naik daun secara cepat pun mengharuskan Microsoft banting harga habis-habisan, karena alternatifnya adalah OS-OS gratisan.
Microsoft juga tidak lagi dianggap sebagai perusahaan yang hip dan cool, melainkan korporasi yang sudah mulai paruh baya. Para anak muda mungkin merasa malu menenteng pemutar MP3 (atau di kemudian hari, ponsel) Zune. Mereka lebih memilih iPod dan iPhone.
Beberapa genre perangkat lunak yang selama ini diandalkan Microsoft pun sudah kuno dan akan mati. Pengolah kata tradisional misalnya, semakin tergeser karena porsi dokumen yang dicetak ke kertas semakin menurun. Terakhir saya memakai Word (atau pengolah kata desktop lain manapun) secara serius adalah 5-7 tahun yang lalu saat aktif membuat buku dan majalah. Kini mayoritas kegiatan menulis saya adalah di dalam <textarea> browser. Bahkan, kini di panel KDE4 saya pun sudah tidak ada lagi tempat untuk OO.o Writer, yang masih ada hanya untuk Calc.
Ketiga, kurangnya simpati terhadap Microsoft jadi tantangan tambahan. Salah satunya larangan dari Eropa membundel Windows 7 dengan IE, padahal vendor OS lain bebas-bebas saja bahkan untuk melebur browser dan file manager (mis: Konqueror di KDE).
Dengan semua kondisi tersebut, saya sedikit merasa berempati terhadap Microsoft. Biar bagaimanapun, perusahaan inilah yang mengusung revolusi PC dan memperkenalkan saya pada dunia komputer. Masih ingat MS DOS dan BASICA?
Tapi, sikap antipati dunia terhadap Microsoft tidak terlepas dari sepak terjangnya di masa lampau hingga kini, yang sebagian besar dimungkinkan oleh posisi dominannya di pasar. Bukan perusahaannya, tapi terutama kondisi monopolilah yang evil.
Microsoft tentu belum akan kehabisan gas dalam waktu singkat. Dengan tingkat penjualan tahunan 60 miliar dolar dan laba bersih 29%, Microsoft masih sangat-sangat sehat dan prima, dan ruang geraknya masih leluasa. Ia masih akan mampu menantang Google di dunia yang semakin “online, online” sesuai dendang salah satu iklan operator ini. Tugas kita sebagai konsumen hanyalah memberi kesempatan wajar mencoba semua alternatif dari keduanya. Jika tidak, kita akan pindah dari monopoli yang satu ke monopoli berikutnya. Moto tak resmi “don’t do evil” Google pun bisa hanya tinggal semboyan dalam kondisi monopoli. (PCMedia, edisi Oktober 2009).
Kemajuan Javascript, Kemunduran PHP?
Autor stevenharyanto | 26.06.2009 | Category PC Media
Beberapa waktu lalu saya sempat menyinggung tentang popularitas Javascript yang sedang naik, dikarenakan tren AJAX dan adu cepat mesin virtual Javascript antara Google, grup Mozilla, Apple, Opera, serta tak ketinggalan Microsoft. Rupanya, dalam beberapa bulan ini terjadi lagi banyak perkembangan baru sehingga menarik rasanya menelaah lebih lanjut.
Pertama-tama, Palm mengumumkan bahwa pembuatan aplikasi di ponselnya yang paling anyar, Pre, tidak perlu memakai Java/C seperti halnya di Android/iPhone, melainkan cukup Javascript/HTML/CSS. Langkah ini tak urung dipuji banyak orang karena mempermudah pengembangan aplikasi. Lalu Google mengumumkan bahwa Chrome akan mendukung extension berbasis Javascript (sebetulnya Mozilla sudah lebih dulu dengan XUL-nya). Masih dari kubu yang sama, Google melansir makro Javascript untuk suite online Docs, sehingga ke depannya orang dapat membuat aplikasi mirip seperti di Word, Excel, Access sekarang. Terakhir, Opera dengan layanan yang disebut Opera Unite berinovasi dengan menyatukan webserver ke dalam browser versi terakhirnya, sehingga setiap pengguna browser bisa mengembangkan servis Internet. Lagi-lagi dengan bahasa Javascript.
Kalau ada bahasa saingan yang perlu kuatir dengan perkembangan ini, barangkali itu adalah PHP.
PHP dalam dekade terakhir telah menjelma menjadi raja bahasa pemrograman web di sisi server, menggantikan saudara tuanya Perl. Bahkan perusahaan raksasa seperti Microsoft (dengan ASP, ASP.NET) dan Sun (Java) pun tak mampu mengalahkan ketenaran PHP. PHP unggul karena deploymentnya yang luas (semua tempat hosting dari yang termurah pun sudah dilengkapi PHP) dan relatif mudah dipelajari (apalagi dibanding njlimetnya Perl).
Tapi, kalau mau diadu, deployment PHP (dihitung berdasarkan jumlah mesin yang terinstal) tidak ada apa-apanya dibandingkan Javascript. Javascript saat ini sudah terpasang di semua browser modern di segala macam OS dari ratusan juta komputer desktop, laptop, hingga ponsel. Semua orang sebetulnya sudah bisa bermain-main dan mencoba Javascript, karena semua orang punya browser. Sementara untuk mencoba-coba PHP perlu mendownload dan menginstal dulu. Serta untuk menggunakan aplikasinya pun masih perlu mengupload ke tempat hosting.
Dari segi kemudahan bahasa, Javascript tidaklah kalah dengan PHP. Buktinya, walau banyak nonprogramer, seperti desainer web, sudah bisa sepatah dua patah kata PHP, tapi lebih banyak lagi yang bisa cas cis cus Javascript. Fitur bahasa Javascript pun tak kalah lengkap, dari OOP hingga fungsi anonim dan beragam konstruksi lain semua ada.
Dengan kemudahan yang ditawarkan produk seperti Opera Unite, yaitu membuat servis di browser dengan Javascript, maka mungkin saja tren pengembangan aplikasi Internet akan berubah. Tahap awal pengembangan (eksperimen) mula-mula di sisi browser. Ini amat nyaman karena bisa dilakukan siapa saja, tidak butuh software tambahan maupun jasa hosting tradisional lagi. Saat servis menjadi popular dan butuh komputasi/bandwidth lebih, servis ini tinggal dipindahkan ke sisi server berkecepatan tinggi berbasis kluster. Dari tahap pertama ke tahap kedua tidak lagi dibutuhkan porting bahasa, karena sama-sama ditulis dalam Javascript. Dengan demikian, cukup alami rasanya jika Javascript pindah ke sisi server.
Sebaliknya, PHP saat ini tidak mudah jika ingin pindah ke sisi klien. Harus ada jutaan mesin yang diinstali PHP. Belum lagi, untuk integrasi ke dalam HTML/CSS PHP pun masih mati kutu dibandingkan Javascript. Javascript sepenuhnya bisa memanipulasi dokumen di level DOM (document object model) dan event, sementara PHP hanya mampu memanipulasi di level kulit saja yaitu pada tingkatan source code. Ditambah tren aplikasi web sekarang yang semakin memanfaatkan tenaga komputasi di sisi klien (perhatikan misalnya aplikasi berat-berat seperti Gmail dan Facebook) maka peran Javascript akan semakin penting.
Dengan berbagai pertimbangan ini, bukan mustahil penggunaan Javascript akan meluas ke sisi server sehingga kedua bahasa ini tidak lagi menjadi komplementer melainkan suplementer (bersaingan). Dengan dukungan penuh dedikasi dari raksasa seperti Google terhadap Javascript, akankah nantinya pangsa pasar PHP digerogoti oleh Javascript edisi server? Beberapa produk komersil dan gratis Javascript sisi server sudah ada namun belum ada yang popular. Kita tunggu perkembangannya. (PCMedia edisi Sep 2009)
Categories
- Catatan Kecil & Snippet (8)
- Proyek (2)
- Tulisan (24)
- PC Media (24)
Archives
Calendar
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Jan | ||||||
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 |
| 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 |
| 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 |
| 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 |