Berapa Bintang?
Thursday, January 05th, 2012 | Author:

Jika kita ingin membuat sistem rating di website (untuk produk, komen, dll), berapa sebaiknya skala teratas yang kita pilih? Berikut ini beberapa alternatif dan alasannya.

2 (0, 1). Alias vote up atau tidak. Kenapa? Karena simpel dan tidak membutuhkan banyak pemikiran bagi pengguna. Beberapa situs jejaring sosial paling beken menggunakan ini (Facebook Like, Google+ +1). Banyak situs berita sosial juga menggunakan sistem ini (mis: HackerNews, Digg).

3 (-1, 0, 1). Mirip dengan sistem biner di atas, tapi selain vote up, memungkinkan juga kita untuk vote down. Beberapa pihak kurang menyarankan memberikan kemampuan vote down pada user, karena “peluang disalahgunakan” dan “hate-oriented”. Contoh situs berita sosial yang menggunakan ini (dan jadi favorit saya, walau kemampuan vote down bukanlah alasan utamanya): Reddit.

5. Kenapa? Karena jari satu tangan kita ada lima. Karena sistem penilaian A-E (yang digunakan di kuliah dan di sekolah di Amrik). Karena beberapa situs e-commerce terkenal menggunakannya (Amazon, Android market place, dll). Karena sistem lima bintang hotel (catatan: sekarang sudah terjadi “inflasi bintang hotel”, mulai bermunculan hotel berbintang enam dan tujuh, ke depannya hotel bintang lima mungkin bukan lagi dianggap paling top.)

10. Kenapa? Karena jari kita sepuluh. Karena peradaban modern menggunakan bilangan berbasis sepuluh. Karena waktu sekolah dasar dan menengah ulangan kita diponten dengan skala 0-10 (tapi, tidak di semua negara seperti ini; Prancis misalnya menganut skala 0-20, Amrik menganut A-E, dll; kehadiran sekolah internasional dengan sistemnya sedikit banyak akan mempengaruhi.) Contoh situs yang menggunakan rating berskala 10: IMDB.

100. Kenapa? Karena persentasi (100%). Karena sebagian ulangan kita dinilai dengan skala 100. Skala 100 adalah perluasan dari skala 10, umumnya digunakan alih-alih skala 10 untuk menghindari terjadinya fraksi desimal.

Jadi mana yang sebaiknya dipilih? Saran saya sangat klise: ikuti mainstream, jiplak situs yang sudah terkenal, karena pengguna sudah terbiasa. Ini berarti: untuk review produk gunakan skala 5 seperti Amazon dan rata-rata situs e-commerce lain (tapi untuk pasar Indonesia, skala 10 juga oke.) Gunakan skala 2 (vote up) atau 3 (vote up/down) untuk item lain.

Category: Desain |  Leave a Comment
Biar Lambat Asal Selirak
Wednesday, March 30th, 2011 | Author:

Berselirak: tersebar di mana-mana – Kamus Besar Bahasa Indonesia

Selain hukum Moore yang menyatakan bahwa jumlah transistor dalam chip (daya komputasi) meningkat dua kali lipat setiap 2 tahun, ada satu hukum lagi yang sedikit kalah popular, Bell’s Law, yang berbunyi: akan muncul generasi (kelas) komputer baru di setiap dekade. Beberapa orang menambahinya dengan embel-embel: generasi komputer baru ini akan lebih kecil 10-100x dibanding generasi sebelumnya.

Feb 2011 lalu tim riset Universitas Michigan mendemokan prototipe komputer berukuran 1mm kubik atau sebesar mata bolpen, sudah mencakup prosesor berdaya superrendah, memori, batere, panel surya mini, serta transmiter radio untuk berkomunikasi. Walau tidak memiliki layar dan keyboard, tentunya, komputer ini sudah bisa disebut lengkap. Rencananya, alat ini akan ditanamkan di mata pasien untuk mendeteksi glaukoma. Baru akan dikomersialkan beberapa tahun ke depan. Demi mengirit daya, komputer liliput ini hanya bangun dari mode tidur setiap 15 menit. Sel suryanya setiap hari membutuhkan cahaya ruangan sekitar 12 jam, atau cahaya matahari 30 menit. Memorinya mampu menyimpan data untuk semingguan.

Ini merupakan pertanda generasi baru komputer yang akan hadir di dekade ini yaitu generasi milimeter (dan submilimeter). Setelah mainframe dekade 1960-an yang sebesar kamar, komputer mini dekade 1970-an yang sebesar lemari, PC era 1980-an yang dapat ditaruh di meja, laptop/notebook/subnotebook era 1990-an, hingga ponsel pintar tahun 2000-an, memang terlihat tren komputer mengecil sekitar satu orde magnituda dibanding generasi sebelumnya.

Kalau boleh saya bilang, revolusi ponsel pintar saat ini sudah hampir berakhir. Nyaris semua orang, kecuali mereka yang berkantong cekak, sudah memakainya. Populasi ponsel pintar di Amrik misalnya, sudah hampir mencapai separuh total ponsel yang ada. Daya komputasi ponsel pun sudah menyamai PC dan server: prosesor 1GHz+ dengan ratusan juta transistor dan multicore dan unit grafis terintegrasi, RAM 1GB ke atas, kapasitas storage puluhan giga, serta konektivitas 4G yang bisa melewatkan data 1 CD dalam hitungan detik. Memang hukum Moore masih akan terus berlaku hingga beberapa tahun ke depan, menggandakan kecepatan komputasi dan komunikasi ponsel, tapi apakah semua orang membutuhkan daya sebesar ini?

Mayoritas yang dilakukan orang tetaplah seputar menelpon, SMS, YM-an. Ponsel supercepat hanya berguna untuk memainkan game kompleks, mendayai UI yang superhalus, atau menyunting video HD. Mayoritas sisa waktu, prosesor ponsel akan idle. Dan daya nganggur ini menanti untuk disalahgunakan. Kita sudah mulai mendengar berita ponsel-ponsel Android yang disusupi hacker untuk menjadi zombie. Dalam beberapa tahun ke depan, kemungkinan masalah zombie ponsel dan bukannya zombie PC yang akan bertambah serius, apalagi jika sikap para vendor ponsel seperti Android yang tidak berubah dan tetap kedul dalam mengupdate OS produk mereka.

Jadi, ketimbang melihat ponsel-ponsel pintar berikutnya yang sudah terlalu powerful, bagi saya akan lebih menarik menyaksikan perkembangan generasi komputer selanjutnya. Prototipe komputer 1mm yang disebutkan sebelumnya, sebetulnya masih terlalu besar dan mengganggu untuk ditanam di mata. Revisi-revisi berikutnya akan berlomba dalam hal ukuran, semakin kecil semakin oke. Masih ada kemungkinan terbuka luas bagi komputer untuk terus mengecil hingga berskala mikroskopik (kasat mata), dimasukkan ke dalam tubuh dan disematkan ke berbagai macam objek. Bayangkan bisa bermain game Space Invader, tapi alih-alih menembaki kapal di layar kita menggunakan robot nano untuk menyerang bakteri/virus/sel kanker. Apa-apapun dari bolpen, buku, dan semua peralatan dapat kita jadikan smart dengan bantuan komputer supermini ini. Setidaknya begitulah janji era komputasi selirak, alias ubiquitous computing.

Di lain sisi, saya berharap server-server dapat mengerut menjadi seukuran ponsel. Sebagai pengelola pusat data, menangani casing berukuran 2U/3U/4U yang berat-berat saya rasakan cukup merepotkan. Alangkah enaknya jika tiap server hanya seukuran ponsel yang amat mudah ditenteng dan dipindah/dipasang-cabut. Datacenter nantinya akan seperti perpustakaan kaset, dan datacenter bergerak tidak perlu sebesar kontainer lagi tapi cukup seukuran mobil boks biasa. (PC Media, Mei 2011)

Category: PC Media |  Leave a Comment
Berbohong Itu Pintar
Wednesday, March 30th, 2011 | Author:

Orang lebih cenderung berbohong di Internet, itu kata beberapa teori. Di ranah blog Indonesia, tahun 2010 sempat mencatat skandal blogger tunanetra Ramaditya yang mengaku menciptakan berbagai musik untuk game-game popular Jepang. Kenyataannya, hanya rename dan copas. Tahun 2001 di Amrik, saat blog masih disebut weblog, sebuah forum berbahasa Inggris pernah heboh karena kasus kematian weblogger popular Kansas bernama Kaycee Swenson akibat kanker leukemia. Ternyata Kaycee hanyalah persona fiktif yang diciptakan “ibunya” Debbie untuk mengundang ribuan simpatisan. Salah satu editor aktif Wikipedia yang mengaku-ngaku profesor, kenyataannya hanyalah seorang anak muda tanpa gelar, sehingga sempat mencoreng pamor ensiklopedia yang sebetulnya memang bebas disunting semua warga cyber itu.

Bukan itu saja, hari-hari online kita dipenuhi oleh hoax/pesan berantai, gambar yang di-Photoshop dan video yang diremix, serta tak kunjung habisnya tawaran-tawaran bisnis mudah dan produk-produk ajaib.

Salah satu teori yang dijuluki “deindividuasi” menduga bahwa penyebab kita lebih mudah/sering berbohong di Internet adalah keterlepasan kita dari atribut-atribut asli (nama, rupa fisik, dsb). Beberapa pihak tertentu, entah karena memang menginginkan “Internet sehat” atau mengatasnamakan hal ini untuk tujuan lain, menyerukan agar semua pengguna Internet diwajibkan memakai ID asli. Bahkan ada juga yang berceletuk agar login FB saja yang dijadikan e-KTP ini karena pengguna FB cenderung memakai nama asli dan memiliki daftar teman asli. Alangkah menyedihkannya jika terlaksana.

Pertama-tama, sebagian besar kebohongan yang terjadi di Internet tidaklah berbahaya. Banyak dari kita punya beberapa akun email, nickname aneh-aneh, atau menyamar jadi orang lain di ruang chat. Tapi tentu bukan untuk menipu orang dari hartanya atau menyakiti perasaan orang lain, melainkan sekedar bermain dan melepaskan diri sejenak dari realitas. Sesuatu yang menurut banyak pakar dipandang sehat-sehat saja. Blogger seperti Rama dan Debbie, walaupun menggunakan klaim/kisah fiktif, malah bisa menginspirasi banyak orang cacat atau sakit lainnya untuk tetap berkarya dan memiliki harapan. Bukankah hal ini berguna?

Berbohong itu sendiri juga nampaknya bagian tak terpisahkan dari keseharian manusia. Terlepas dari tuntutan agama yang mewajibkan kita jujur setiap saat karena “bohong adalah dosa”, kenyataannya nyaris setiap orang setiap hari berbohong kecil: berbasa-basi, bercerita sambil memberi sedikit bumbu, menyembunyikan hal-hal tertentu dari istri/anak/teman/suami, memberi pujian kosong, melakukan gertak sambal, dsb. Bohong kecil ini ibarat pelumas bagi roda kehidupan bermasyarakat. Apa jadinya kalau setiap orang berterus terang (termasuk mengutarakan kejelekan dan ketidaksukaan mereka pada orang lain)? Bukankah masyarakat seperti itu tidak nyaman, cepat rusuh, lalu runtuh?

Bahkan, beberapa studi menunjukkan kaitan antara kemampuan berbohong dan tingkat kecerdasan. Anak yang mulai berbohong sejak lebih dini dan lebih pandai dalam melakukannya ternyata memiliki otak yang lebih encer dan lebih berpeluang sukses saat besar nanti. Pembohong patologis ternyata memiliki lebih banyak sel neuron dan interkoneksi di otaknya. Wajar saja, karena untuk berbohong kita harus menyusun skenario, merangkai kata, dan selangkah di depan.

Kedua, dengan kondisi Internet saat ini yang anonim dan memisahkan identitas asli dengan identitas online, kita justru selalu diingatkan bahwa Internet memang penuh hal berbahaya dan mewajibkan kita berhati-hati saat online. Jika identitas disamakan, bukankah kewaspadaan orang akan menurun?

Bukan hanya berbohong yang butuh otak encer, selalu waspada dan berusaha mendeteksi kebohongan juga bisa meningkatkan kecerdasan. Masyarakat yang cerdas adalah masyarakat yang diisi oleh individu-individu yang sadar akan potensi dan bahaya yang terkandung dalam Internet, yang bisa memilah dan mengecek sendiri informasi yang ada di Internet. Bukan masyarakat yang disodori Internet yang sudah disensor, sudah difilter, sudah jadi bubur yang tidak perlu dicerna lagi. Masyarakat seperti itu adalah masyarakat yang bodoh, yang ompong dan tidak independen dalam berpikir. Mari perangi kebodohan dengan tidak menyensor Internet. (PCMedia, Apr 2011)

Category: PC Media |  6 Comments
Masa Depan Yang Cela
Wednesday, January 05th, 2011 | Author:

Anak muda suka segala sesuatu yang baru, apa-apa harus di-rewrite dan direvolusi, semua yang lama dianggap kuno. Sebaliknya orang tua senang segala hal yang jadul, tidak suka perubahan, senang bernostalgia tentang masa lampau yang indah. Belakangan ini saya sering memimpikan barang-barang jadul dan teknologi lama yang rasanya kok lebih oke ketimbang yang sekarang. Apakah saya sudah mulai menua?

Saat artikel ini ditulis, situs-situs berita teknologi ramai membicarakan galat (bug) tiga platform OS mobile popular sekaligus: Android, iPhone, dan WP7. Windows Phone 7 ternyata doyan menghabiskan pulsa dengan menyedot bermega-mega data, padahal si pengguna hanya sesekali saja mengecek FB. iPhone 4 gagal mengaktifkan alarm ketika pergantian tahun, karena bug pada software. Android lebih parah, kadang mengirim SMS ke kontak yang keliru, juga galat pada perangkat lunak. Saya menggunakan ponsel Android, sudah lebih dari sekali mengalami aplikasi dialer crash, lebih dari sekali pula kehilangan data karena Android salah menghapus SMS. Bayangkan, ponsel modern yang canggih dan mahal tidak bisa melakukan fungsi dasar dengan baik yaitu menelepon dan mengelola SMS. Bukankah kalau begitu ponsel jadul tahun 2004 seharga masih 200rb lebih baik?

Dalam sebuah dokumenter BBC Visions Of The Future (yang bisa diunduh/ditonton di YouTube dll), diceritakan salah satu janji teknologi untuk menciptakan masa depan yang cerah yaitu lewat peningkatan daya komputasi. Dengan kehadiran chip/prosesor yang semakin kecil dan murah, namun semakin cepat, bahkan peralatan kecil seperti MP3 player atau arloji pun memiliki daya komputasi setara dengan superkomputer dekade-dekade sebelumnya. Dan akan semakin banyak peralatan lain yang akan menjadi intelijen karena ditenagai CPU: dari kacamata hingga aksesoris pakaian, dari termometer hingga pintu, dari sikat gigi hingga botol sekali pakai. Bukankah menyenangkan?

Sebaliknya, bersiap-siaplah menghadapi kekonyolan demi kekonyolan dan kecelakaan demi kecelakaan. Semua alat pintar tersebut akan diperlengkapi dengan perangkat lunak tentunya. Dan kendati tenaga mentah komputasi sudah meningkat ribuan bahkan jutaan kali lipat sejak 2-3 dekade lampau, namun sampai saat ini manusia masih mengalami kesulitan menekan tingkat galat pada software. Kita sudah mendengar di berita tentang kegagalan roket antariksa karena masalah software, atau perangkat kemoterapi yang menyinari pasien dengan dosis fatal karena salah algoritma program, atau sistem elektronik kendaraan yang ngawur. Di masa depan, bug pada sendal/sepatu cerdas bisa membuat Anda batal keluar rumah atau malah salah melangkah menuju lubang.

Kenapa software tetap penuh bug? Alasan utama adalah karena mayoritas perangkat lunak masih ditulis oleh manusia. Manusia hanya bisa menghadapi kompleksitas hingga taraf tertentu saja, di luar itu otaknya menyerah. Berbagai teknik dikembangkan untuk menangani kompleksitas yang semakin meninggi, dari bahasa pemrograman yang semakin abstrak, teknik pemrograman berorientasi objek atau visual, sampai berbagai metodologi pengembangan yang tak ubahnya seperti fesyen karena berganti tren tiap beberapa tahun. Namun semua ini hanya mampu menyembunyikan kompleksitas hingga beberapa kali lipat saja.

Selain itu, manusia pun terbukti memang rentan terhadap jenis-jenis kesalahan dan bias tertentu, yang sulit dihilangkan karena berhubungan dengan karakteristik otak. Seorang programer berpengalaman mungkin akan bisa menghindari kesalahan-kesalahan pemula, seperti kesalahan karena kurangnya pengetahuan terhadap bahasa/teknik, atau kesalahan desain yang naif. Tapi ia tetap saja rentan membuat kesalahan-kesalahan bodoh lainnya, yang tidak terbatas kemungkinannya. Bahkan, ada kesalahan-kesalahan tertentu yang lebih cenderung dibuat oleh para pakar ketimbang pemula.

Jadi, sampai kita bisa mengotomasi pembuatan program oleh mesin (seperti halnya otomasi manufaktur produk), berbagai keterbatasan intrinsik manusia akan membuat software kita tetap penuh cacat cela.

Bukan itu saja. Meningkatnya kompleksitas pun akan semakin memperparah isu keamanan. Dulu hanya PC Windows yang sarat dipenuhi malware, kini ponsel kita pun bisa disusupi trojan karena ponsel pintar telah menjelma menjadi komputer skala penuh bahkan seampuh server. Di masa depan, dompet pintar bisa dicuri dari jarak 5000km dan perabotan dapur semua harus dibelikan antivirus. Betapa repotnya! (PCMedia, Mar 2011)

Category: PC Media |  4 Comments
Goyang Dong!
Wednesday, January 05th, 2011 | Author:

Rudi awal 2011, desainer, pecinta Apple. Setelah duduk seharian mengerjakan proyek di depan iMac-nya, untuk bersantai ia ke ruang keluarga, mengambil rimot di meja lalu menghempaskan diri ke sofa. Mencari-cari saluran yang cocok, menonton sambil surfing dengan iPhone. Malam hari, ia membaca ebook dengan iPad di kamar sampai mengantuk.

Rudi pertengahan 2014, kini menikah dan menempati rumah baru. Pagi jam 10 masih bermalasan di tempat tidur. Dengan iPad generasi ke-6 yang makin sering dipakai menggantikan laptop, melihat-lihat mockup kerjaan anak buah sambil surfing di YouTube. Saat menemukan satu video lucu, dia memanggil istrinya yang sedang di ruang keluarga. Lewat IM tentunya, bukan dengan berjalan dan turun tangga ataupun berteriak-teriak dari kamar.

IM muncul di layar TV Internet ber-OS Android 5.5. Istrinya menekan OK di rimot lalu menonton video tersebut. Oya, kunci pintu depan belum dibuka. Dengan satu tombol di rimot yang sama, si istri membuka kunci pagar elektronik. Hm, hari ini harus belanja apa ya? Ia lalu melihat isi kulkas. Masih lewat TV tentunya, karena kulkas Samsung terbaru di keluarga pun sudah online dan dapat melaporkan status lewat Web. Semua persediaan masih banyak, kayaknya hari ini nyantai aja deh di rumah!

Apakah hal yang sama mulai terjadi pada Anda? Ironis bukan: kala komputer, ponsel, dan TV menjadi semakin interaktif dengan teknologi Web seperti AJAX/HTML5, para penggunanya malah semakin loyo karena tidak aktif.

Hanya dalam waktu beberapa dekade saja, kenyamanan yang diberikan teknologi, dari ponsel pintar sampai Segway, dari tablet hingga rimot universal, semakin menggoda kita untuk tetap diam sepanjang hari. Jangankan untuk naik turun tangga, kini banyak yang sudah malas duduk dan browsing dalam posisi tiduran. Padahal, sebagai spesies biologis yang hidup di planet bumi sejak ribuan abad, evolusi merancang kita harus terus bergerak. Kaki manusia mampu berjalan puluhan kilometer sehari melebihi semua hewan darat manapun, namun otot-otot kita harus dipakai dan digerakkan teratur jika tidak ingin mengalami atrofi. Jarang berkeringat pun kurang baik bagi manusia, karena dengan berkeringat kita sekaligus mengeluarkan racun-racun tubuh. Merosotnya kesehatan pasien stroke secara drastis yang terutama disebabkan inaktivitas merupakan salah satu bukti jelas bahwa manusia perlu aktif agar sehat.

Negara adidaya teknologi seperti Amrik sampai tak berdaya dalam menggerakkan warganya. Meskipun sudah ada kampanye kesehatan seperti Move! (Gerak Yuk? Goyang Dong?) kenyataannya hingga seperlima remaja di Amrik ndut. Tapi, negara-negara berkembang pun tak usah bangga karena menurut WHO, 80% penyakit tak menular terjadi di negara berpenghasilan rendah. Kurang gerak merupakan salah satu faktor penyakit-penyakit seperti ini.

Kalau dulu seingat penulis anjuran dari guru dan orang tua adalah agar berolahraga minimal 2-3 kali seminggu, maka kini sudah banyak pakar kesehatan yang menyarankan agar berolahraga minimal 5 hari sepekan atau bahkan setiap hari. Kenapa? Karena di luar olahraga, aktivitas keseharian kita sudah menjadi begitu pasif. Tidak lagi banyak berdiri melainkan terpaku di depan layar komputer. Tidak lagi banyak berjalan karena ke mana-mana dengan mobil. Tidak lagi harus menghampiri rekan kerja atau mengunjungi kerabat, karena semua komunikasi dengan imel/SMS/YM/fesbuk/tuit dan entah apa lagi nanti.

Karena meningkatkan kebugaran dan mengurangi berat badan tetap menjadi salah satu resolusi tahun baru paling favorit, di mana-mana, bagaimana kalau di awal 2011 ini para pembaca berikrar untuk kembali rajin bergerak dan berolahraga? Pusat kebugaran sudah menjamur di perkotaan, dan tanpa bergabung di pusat kebugaran pun Anda tinggal mengunjungi taman dan kolam renang terdekat, atau mengelilingi kompleks perumahan. Untuk pegawai kantoran dan rumahan, sudah ada banyak tip yang bisa dibaca di Web untuk meningkatkan gerak, yang pada intinya adalah mengakali dan menyengajakan sedikit merepotkan diri, mis: memakai gelas kecil agar sering bolak-balik ke dispenser, banyak minum agar sering ke WC, memasang software activity breaks, makan siang di tempat yang agak jauh dan bukan pesan antar, memilih tangga ketimbang lift, dll.

Bagaimana dengan penulis sendiri? Kebetulan, salah satu resolusi tahun baru saya adalah kembali menulis artikel tentang resolusi tahun baru. Jadi, centang. (PCMedia/Jan 2011)

Category: PC Media |  4 Comments
Buka-Bukaan, Selalu Haruskah?
Thursday, October 07th, 2010 | Author:

Barangkali karena kombinasi Internet, teknologi informasi/komunikasi, dan open source, banyak orang sekarang memuja kata open dan menuntut apa-apa harus (lebih) terbuka. Contoh, 10-15 tahun lalu, merilis sebuah software open source umumnya cukup dengan mengunggah file tarball/zip berisi kode sumber ke server lalu mengumumkannya ke milis/newsgroup. Kini, setelah saya merilis sebuah software, tak lama ada yang langsung bertanya di mana repositorinya, bisakah ditaruh di github/SF/Google Code, apakah lisensinya kompatibel dengan CC/GPL/BSD/DSFG/dsb. Bukan hanya produk akhirnya saja melainkan keseluruhan proses pengembangan open source pun dituntut terbuka, kolaboratif, transparan. Mulai dari akses ke sistem kendali sumber, forum/milis pengembang, hingga bug trackernya. Hanya menyediakan tarball tidak lagi dianggap sesuatu yang cukup terbuka.

Karena itu, dirilisnya film The Social Network yang mengisahkan pendirian Facebook kembali mencuatkan berbagai kritik terhadap situs jejaring sosial ini. Terutama seputar isu bahwa FB adalah taman berpagar (walled garden) yang mewajibkan kita menjadi anggota dulu sebelum bisa masuk. Dan ironis bahwa di atas platform Web yang terbuka, malah bermunculan taman-taman tertutup seperti FB (atau Android Market, atau AppStore dan keseluruhan sistem Apple).

Para pengkritik FB ini mungkin lupa bahwa konsep situs jejaring sosial itu sendiri adalah hanya mengizinkan akses bagi “teman” (dalam artian, mereka yang telah diundang/diizinkan), bukan bagi publik. Karena itu sah-sah saja jika sifatnya mewajibkan daftar dulu sebelum bisa melihat konten apapun. Dan tentu saja setiap user bisa mengeset segala datanya publik jika dia mau.

Kritik berikutnya terhadap FB adalah menjual data pengguna kepada pengiklan. Sayang sekali memang, iklan adalah satu dari segelintir saja model bisnis yang berhasil di Internet. Ini juga karena pengunjung senang yang gratisan dan lebih memilih menyerahkan data pribadi ketimbang membayar Rp 5000/bulan untuk akses tanpa iklan. Dan, FB bukan satu-satunya pelaku. Tak kurang dari Microsoft dan Apple kini pun melakukannya. Bahkan Google sebagai pengusung Open Web saat ini jauh melebihi semua situs lain dalam hal koleksi/agregasi data. 90+% penghasilan Google, atau lebih dari $20 milyar/tahun, didapat dari iklan (sementara FB baru sekitar $1 milyar). Kendati mayoritas data yang disimpan Google bukanlah foto/posting/relasi jejaring sosial, namun Google melacak semua kata kunci pencarian dan aktivitas browsing kita.

Kritik lain, dan yang paling relevan dalam hal openness, adalah keberadaannya sebagai platform aplikasi. Kendali FB terhadap aplikasi yang berjalan di platformnya memang absolut. Tak ada aplikasi yang bisa berjalan tanpa persetujuan terlebih dulu. FB bisa mematikan aplikasi manapun secara sekejap, sepihak, kapan saja. Perusahaan yang membangun model bisnis di atas platform FB harus tunduk telut pada FB, atau siap-siap hilang setiap saat. Inilah sebabnya Zynga khawatir seandainya FB membuat divisi gamenya sendiri (walaupun FB juga sebetulnya khawatir Zynga merangkul jejaring sosial lain seperti Google Me).

Tapi, kendali ketat ini masih dapat dimengerti karena aplikasi FB memanipulasi langsung data pengguna (yang notabene adalah aset utama FB) dan sebagian malah berjalan langsung di server FB. FB memiliki kepentingan defensif menjaga agar aplikasi tidak merusak data maupun mengganggu pengguna. Contohnya, beberapa perubahan terakhir platform FB adalah pembatasan viralitas aplikasi maupun akses langsung terhadap Inbox, dlsb.

Ini menurut saya berbeda dengan walled garden sejati seperti Apple AppStore (atau, berbagai appstore lain). Pada dasarnya, aplikasi-aplikasi mobile ini tidak mengakses database di server Apple langsung, maupun berjalan di server milik Apple. Aplikasi ini sama seperti program tradisional di PC, berjalan di device milik pengguna masing-masing. Karena itu restriksi hanya mengizinkan aplikasi dari Apple AppStore yang berjalan di iPhone/iPad benar-benar merupakan tindakan antiopen yang sesungguhnya tanpa alasan teknis yang kuat. Kalau proponen segala hal yang open harus berkoar-koar terhadap sistem yang tertutup, Apple-lah musuh utama mereka, bukan FB.

Akhir kata, suka atau tidak suka terhadap FB, The Social Network nampaknya masih menarik ditonton. Rating IMDB-nya cukup bagus. (PC Media, edisi Des 2010).

Category: PC Media |  Leave a Comment
tvOS
Saturday, August 28th, 2010 | Author:

Bulan-bulan ini rencananya Sony akan mulai memasarkan produk Internet TV. Sebetulnya penggunaan Internet untuk perangkat televisi bukanlah hal baru. Apple sudah mengeluarkan iTV-nya sejak 2006. Microsoft mengembangkan Windows versi Media Center dan memiliki layanan Xbox Live. Sony sendiri pun sudah sebelumnya mengoperasikan Playstation Network (PSN) bahkan sudah menjual model TV Bravia di tahun 2007 yang juga dijuluki teve internet kala dirilis. Namun yang berbeda, produk Sony terbaru ini adalah yang pertama menggunakan platform Google TV berbasis Android (dan prosesor Intel Atom). Ini pertama kalinya Google mencoba peruntungan di ranah TV. Sang “raja Web” ini menjanjikan perpaduan TV dan Web yang jauh lebih ketimbang produk-produk TV internet yang sudah ada sebelumnya, yang praktis hanya sejauh streaming konten video atau download game/musik/trailer. Apple pun segera memasang jurus, mengupgrade produk iTV dan gencar melakukan serangkaian deal dengan stasiun-stasiun untuk menjual acara TV satuan via iTunes. Rupanya tahun 2010-2011 akan menjadi tahun menarik untuk teknologi perangkat televisi (setidaknya di Amrik/Jepang/Eropa), karena selain TV internet sedang ngetren pula teknologi 3D.

Memasuki pasar televisi, Google tetap menggunakan resep klasiknya yang sejauh ini masih jitu: mengandalkan konten dari orang lain (dalam hal ini, dari stasiun siaran dan operator TV kabel) lalu menerapkan teknologi pencarian untuk membuat konten ini lebih mudah diakses pengguna. Dalam demo bulan Mei lalu di konferensi Google I/O, pengguna Google TV akan disuguhi kotak pencarian di bagian atas layar TV untuk mencari nama artis/judul acara/topik, lalu Google akan melakukan pencarian baik di YouTube, arsip video pengguna, maupun toko konten onlinenya (selain informasi umum dari Web). Lewat perangkat set top box yang dihubungkan dengan televisi, Internet, maupun TV kabel dengan protokol khusus, Google akan mengambil informasi tentang jadwal acara TV (dan iklan-iklan) ke operator TV agar mempermudah pengguna menemukan acara favorit.

Bukan itu saja, yang ujung-ujungnya dikejar Google adalah dapat memantau aktivitas pengguna TV (dan, memakai informasi ini untuk menjual iklan). Selama ini pengiklan media siar macam TV/radio memang tidak memiliki laporan efektivitas iklan yang mendetil sebagaimana halnya iklan web online. Yang diketahui hanyalah jumlah kira-kira penonton sebuah acara (rating) beserta segmen-segmennya (ibu rumah tangga, rentang usia, dll). Kini, lewat bantuan Google, setiap pindah saluran, setiap tombol remote yang dipencet, setiap kata kunci pencarian akan dikirimkan ke server.

Sama seperti nasib perusahaan suratkabar, cepat atau lambat para stasiun/operator TV akan menyadari bahwa Google (dan juga Apple, karena perusahaan inipun kini mengoperasikan iAds) akan menjadi pesaing mereka dalam berebut kue iklan. Pasar iklan televisi berkali-kali lipat nilainya dibanding pasar iklan online: pasar iklan online dunia saat ini sekitar 40 miliar dolar US, sementara pasar iklan televisi untuk Amrik saja sudah sebesar 70 miliar dolar. Google dan Apple adalah perusahaan raksasa yang menjadi favorit pasar saham, tentu saja setiap tahunnya diharapkan meningkatkan pemasukan miliaran dolar. Tapi apa boleh buat, konektivitas Web dan komputer pandai akan melanda semua perangkat rumah dan kantor, masih akan banyak lagi industri yang akan berhadapan dengan para jawara komputer/Web ini.

Dari segi teknologi sendiri, media televisi akan menjadi sebuah ajang pembuktian yang penting bagi Android. Jika sukses dengan segala keterbatasan media ini, maka bisa hampir dipastikan bahwa Android akan merajalela untuk semua perangkat berlayar, karena sudah dibuktikan dari yang layar ukurannya kecil (ponsel) hingga raksasa (TV puluhan inci). Setelah TV, penetrasi Web akan terus berlanjut dengan semua perangkat kita yang lain: dari kulkas (otomatis memesan makanan yang sudah mulai habis ke toko online), fax/printer (akses instan ke buku telepon/email/dokumen online), sistem kendali rumah pintar (mengizinkan kita mengunci rumah dan mematikan lampu lewat Internet), dan entah apa lagi.

Tapi, seperti biasa bisa diperkirakan bahwa karena kendala infrastruktur Indonesia akan tertinggal bertahun-tahun untuk adopsi TV internet ini. Xbox Live saja sampai sekarang belum tersedia di Indonesia, sementara di PSN pengguna Indonesia belum bisa membeli film/musik online. Jangankan itu, persentasi jumlah pengguna TV berbayar pun masih jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara Asia lainnya. Mayoritas pengguna Indonesia masih hanya mau mencari konten gratis, yang bejibun di YouTube atau jaringan BitTorrent. (PCMedia, Nov 2010)

Category: PC Media |  Leave a Comment
Pos Di Era Pascapos
Saturday, August 28th, 2010 | Author:

Kapan terakhir kali Anda menulis dan mengirim surat ke teman? Apakah Anda masih menerima kartu ucapan atau wesel pos? Tahu/masih ingatkah Anda istilah-istilah ini: warkat pos, telegram, filateli? 

Bukan rahasia lagi bahwa popularitas dan relevansi kantor pos sudah melewati masa jayanya. Jikalau dulu kita merasa wajib mengunjungi kantor pos setiap minggu, berharap pak pos datang memanggil setiap hari, dan mengoleksi prangko edisi baru tiap tahun, kini tidak lagi. Bagi kebanyakan orang modern, email, YM, ponsel, dan Facebook-lah yang menjadi “layanan pos” mereka sehari-hari. Memperingati hari pos sedunia yang ditetapkan setiap 9 Oktober, menarik menyimak bagaimana perusahaan-perusahaan pos di berbagai negara mencoba bertahan.

Amrik. Orang Amrik termasuk gemar berkirim surat/pos, karenanya tak heran US Postal Service merupakan salah satu perusahaan dengan karyawan terbanyak di dunia. Rata-rata setiap orang di sana mengirim sekitar 1,5 pucuk surat/hari, dengan total surat terkirim tahun 2009 sekitar 170 miliar. Namun jumlah ini menurun terus sejak awal dekade sebelumnya (2000) yaitu 220 miliar. Sejak 2007 USPS terus merugi dan penjualannya pun merosot, sebuah potret yang amat buram. Tahun 2008 USPS akhirnya terpaksa mem-PHK puluhan ribu karyawannya. Langkah-langkah pengiritan lain yang dilakukan: mencabut kotak-kotak pos yang kurang peminat, tidak lagi mengantar surat hari Sabtu, menutup beberapa cabang, dan memberikan insentif pensiun dini (untuk mengurangi biaya PHK). Untungnya, proyek sensus nasional 2010 akan membantu memberi pemasukan tambahan. Sumber pemasukan lainnya masih sulit diandalkan, karena 80% total pemasukan masih dari pengiriman surat. Sedangkan jumlah surat yang dikirim terus menyusut karena orang semakin banyak membayar tagihan dan mengirim undangan online.

Indonesia. Dibanding USPS, nasib PT Pos masih lebih mujur karena telah lama melakukan diversifikasi. Hanya sekitar 50% pemasukannya kini yang berasal dari surat. Sisanya, jasa keuangan 35%, jasa logistik 7%, bisnis noninti 8%. PT Pos masih berhasil membukukan laba dari tahun ke tahun, walaupun didera isu korupsi dan kadang jumlah labanya kerdil (tahun 2006 dan 2007 hanya sekitar Rp 2 miliar). Usaha jasa finansial nampaknya akan terus digenjot PT Pos, karena di bisnis intinya yaitu surat/paket ia banyak digempur oleh perusahaan-perusahaan kurir lokal maupun internasional (apalagi sejak monopolinya dicabut tahun lalu). Salah satu strategi cerdas PT Pos mengakali hal ini adalah dengan mengobral kemitraan Agen Pos di kelurahan-kelurahan seluruh Indonesia.

Jerman, Prancis. Tak seperti di Amrik, perusahaan-perusahaan pos di Eropa umumnya memiliki anak usaha bank yang cukup besar, karena itu kerugian yang diderita unit posnya bisa disubsidi oleh divisi jasa finansialnya. Deustche Post juga rajin melakukan akuisisi (mis terhadap DHL & DHL Express) untuk memperkuat posisinya. Sementara La Poste terkenal dengan sistem Minitelnya yang menyerupai Internet/Web sebelum Web ada. Lewat perangkat Minitel yang tersebar di mana-mana (toko maupun rumah), Anda dapat mengakses halaman kuning, mengecek harga saham, membeli prangko, tiket kereta, dll.

Sebetulnya penyedia layanan pos bukannya tidak berinovasi atau memanfaatkan teknologi modern untuk terus maju. USPS menjual prangko di supermarket dan juga online, bahkan Anda dapat mencetak amplop, kardus, hingga label pengiriman untuk langsung ditempelkan pada paket, tinggal tunggu pak pos datang menjemput. PT Pos membuat wesel pos instan berbasis telekomunikasi ala transfer uang pakai SMS. Dan Minitel, tentu saja, adalah bak cikal bakal Web. Namun imej perusahaan pos sebagai perusahaan generasi lampau sulit dihapus. Dalam bidang IT pun kompetensi mereka kalah dengan perusahaan-perusahaan baru yang lebih gesit. Sementara turunnya omzet dari pengiriman surat, yang masih menjadi andalan bagi banyak perusahaan pos (seperti USPS), terus menggerus kocek.

Jasa pos adalah satu saja dari sekian banyak contoh di mana teknologi yang terus berkembang memporak-porandakan sebuah industri dan membuatnya kadaluarsa, sekaligus melahirkan industri-industri baru. Masih ada harapan bagi perusahaan-perusahaan posnya itu sendiri untuk bertahan, namun praktis mereka harus meninggalkan cara/model bisnis lama dan berubah menjadi entiti baru. Cepat atau lambat, hal ini akan terjadi pula pada bidang yang kita tekuni. Pertanyaannya adalah, siapkah kita nanti? (PCMedia, Oktober 2010)

Category: PC Media |  Leave a Comment
Kmn 4L4i?
Wednesday, July 07th, 2010 | Author:

Suka atau tidak suka, fenomena alay nyata. Malah, fenomena alay ada karena kita sebagai orang dewasa tidak suka. Bagaimana alay akan berkembang di generasi berikutnya?

Forum internal di kantor saya sedang heboh. Penyebabnya, ada staf baru yang alay. Sudah diduga, karena praktis semua staf lama di kantor tidak berusia remaja lagi, rata-rata geleng kepala dan mengungkapkan ketidaksukaannya terhadap gaya bahasa ABG yang dipakai staf baru tersebut. Alasannya tentu saja karena sulit dibaca, sulit dimengerti, dan terlalu informal. Mereka lupa bahwa beberapa tahun hingga belas tahun yang lalu ketika mereka masih remaja, mereka pun melakukan hal yang sama dengan bahasa gaul/prokem, dengan tujuan persis agar para orang tua garuk-garuk kepala karena puyeng.

Fenomena alay meneruskan tradisi dan siklus lahirnya bahasa slang/jargon/dialek yang selalu terjadi secara konstan tiap beberapa tahun seiring munculnya generasi remaja berikutnya, ataupun lahirnya kelompok/subkultur baru karena perubahan zaman. Dalam hal ini fenomena alay tidak ada bedanya dengan fenomena-fenomena bahasa gaul sebelumnya. Yang berbeda hanyalah kondisi spesifik zaman saat itu: media apa yang sedang popular, teknologi apa yang sedang berkembang, dsb.

Sudah banyak artikel yang membahas tentang perkembangan dan kondisi alay saat ini, namun saya tertarik untuk menerka-nerka arah perkembangan “alay generasi berikutnya”.

Selalu tampil beda. Prinsip yang bisa dijadikan patokan dalam memperkirakan apa yang bakal dilakukan remaja adalah, remaja selalu ingin tampil beda dari orang tua/dewasa (maupun anak-anak). Contohnya, popularitas SMS (dan juga chat/IM) yang dimulai beberapa tahun lalu membuat maraknya penggunaan singkatan yang ekstrem. Bukan saja penghilangan beberapa vokal dan huruf mati sebagaimana penyingkatan yang tradisional (“bagaimana” menjadi “bgmn”), tapi digunakan juga substitusi dengan angka (“t4” untuk “tempat”, “l8” untuk “late”/terlambat), pengubahan ejaan (“cause” menjadi “coz”) bahkan pemotongan begitu saja (“emosional” menjadi “emo”). Sebagian singkatan ini banyak dipelopori oleh anak muda, namun saat menjadi popular dan digunakan oleh semua orang, mulailah para remaja mencari-cari singkatan/ejaan alternatif yang tidak lazim (misalnya: “gue” berubah menjadi “gw”, “w”, “q” dan entah apa lagi nanti, “sori” menjadi “sowi”, “cowyie”, dst) hingga melakukan overdekorasi pada kata sehingga huruf bercampur dengan angka juga simbol (“kabar” menjadi “K@b4r”), atau malah menjadi lebih panjang daripada kata aslinya (“home” menjadi “hummzz”, “cakep” menjadi “cu4K3pZ”). Aturan penyingkatan pun yang tadinya konsisten, karena dorongan untuk selalu ingin beda, dibuat menjadi tidak konsisten. Jadi, hampir dapat kita pastikan kalau alay generasi berikutnya tidak akan persis/menyerupai alay saat ini, semata-mata karena alay saat ini diciptakan/dipakai oleh orang yang akan menjadi dewasa/tua nantinya.

Bahasa Inggris dan Internet. Merasuknya bahasa Inggris pada bahasa-bahasa gaul setempat, bukan saja dialami di Indonesia tapi juga di seantero dunia. Karena kemajuan dan pengaruh budaya Amerika serta pesatnya globalisasi (yang diakselerasi juga oleh Internet), mewabahnya bahasa Inggris sebagai “bahasa gaul dunia” tak terelakkan lagi. Hal ini nampaknya dalam waktu singkat tidak akan berubah, mengingat tidak ada kandidat kuat bahasa lain (lebih jauh mengapa, lihat dua artikel lampau saya: IT dan Bahasa Inggris serta Casciscus Inggris Karena Minder). Jadi, cukup aman kita katakan bahwa bahasa gaul berikutnya akan tetap amat terpengaruh oleh bahasa Inggris bahkan mungkin lebih. Remaja mana yang mau disebut kampungan, gak mendunia, gak gaul secara global?

Mode komunikasi masa depan. Kalau zaman saat ini mode komunikasi antarpersonal yang paling marak adalah SMS/chat/IM di mana sebaris dua baris pesan dipertukarkan dan direspon dalam hitungan beberapa belas-puluh detik hingga beberapa menit, maka mode komunikasi yang mungkin akan lebih popular di masa depan adalah mode yang lebih interaktif/instan lagi yaitu tiap huruf yang diketik langsung dikirim dan dapat dilihat oleh penerima. Hal ini sudah didemonstrasikan oleh Google Wave namun belum diimplementasi kebanyakan jaringan chat. Orang-orang dewasa dan tua kemungkinan tidak akan terlalu suka mode interaktif seperti ini karena lebih menyita perhatian, dan bisa ditebak bahwa dengan demikian remaja akan ekstra menyukainya. Sehingga menarik membayangkan bagaimana teknologi seperti ini akan mempengaruhi gaya berkomunikasi dan bahasa mereka. Barangkali dekorasi menghias-hias kata dengan simbol/angka/huruf besar/kecil tidak akan terlalu ngetren lagi, karena proses ini butuh waktu dan tidak asyik jika dilihat saat diketik/disusun. Atau barangkali, melirik Google Wave, penggunaan bot untuk melakukan transformasi real-time pada teks yang sedang diketik akan lebih popular (bisa diaplikasikan remaja untuk melakukan enkripsi/enkoding yang bisa membingungkan orang tua). Atau barangkali…

Ah, saya lanjutkan lain kali saja. Saya masih ingin memposting sindiran-sindiran untuk si alay kantor. (PC Media Sep 2010)

Category: PC Media |  3 Comments
Quo Vadis Yahoo!?
Thursday, June 17th, 2010 | Author:

Akhir Mei 2010 lalu, Yahoo! mengumumkan akuisisi total terhadap situs jejaring sosial selular lokal Koprol, dengan nilai yang tidak disebutkan. Seluruh karyawan Koprol berjumlah 11 orang resmi menjadi karyawan Yahoo! dan akan terus bekerja mengembangkan situs tersebut dalam skala internasional. Walaupun ini bukan pertama kalinya produk online buatan Indonesia dibeli pihak asing, namun barangkali ini yang paling high profile dalam beberapa tahun terakhir, dikarenakan nama besar Yahoo! dan sedang terus trendinya jejaring sosial.

Yahoo! adalah muka lama di arena layanan Internet, berdiri tahun 1995. Dibandingkan banyak perusahaan seangkatan seperti Lycos dan Altavista, nasib Yahoo! jauh lebih baik: tetap eksis hingga kini sebagai salah satu pemain terbesar dan konsisten meraup laba dari tahun ke tahun. Namun Yahoo! juga telah kehilangan banyak gelarnya. Mahkota raja pencarian telah diambil Google sejak awal abad ini. 2008 lalu yahoo.com disalip YouTube dalam ranking situs paling banyak dikunjungi di Amrik (dan kini berada di posisi #3). Kue pasar email, total waktu kunjungan, dan iklannya pun digerogoti raksasa online lain.

Yahoo! saat ini adalah sebuah grup media online yang rajin dan regular membeli situs-situs (“properti”) popular dengan tujuan akhir sebagai tempat untuk memajang iklan. Sekitar 90% penjualan Yahoo! adalah dari iklan online. Ini sama dengan Google. Bedanya adalah, properti-properti Yahoo! hampir semuanya dibeli dari luar dan tidak dikembangkan sendiri. Terkecuali direktori dan IM, mulai dari email (dibeli dari Four11 dan Oddpost), pencarian (dari Net Controls, Inktomi, Overture), permainan (ClassicGames), milis (eGroups), hosting file/situs (GeoCities), hosting gambar (Flickr), dll merupakan hasil pertumbuhan inorganik, bukan alamiah hasil kerja orisinal tim sendiri.

Di sinilah masalahnya: Yahoo! relatif kekurangan daya kreatif dan pengembangan teknis untuk melahirkan situs-situs inovatif sendiri, ataupun untuk mengubah situs-situs potensial yang dibelinya agar bertumbuh secara maksimal. Apalagi banyaknya properti yang dibeli dan harus diurus juga semakin memperencer konsentrasi pada salah satu properti dan memperberat kerja integrasi antarlayanan.

Di email contohnya, kita bisa melihat betapa lambat Yahoo! bereaksi: sejak Gmail muncul 2004, baru tahun 2008-2009 layanan email Yahoo! sepenuhnya berganti muka ke generasi baru. Dan sampai sekarang pun integrasi arsip online chat/IM dan email belum kelar. Atau, kadang saya geleng kepala terhadap kebijakan teknis aneh yang masih dipertahankan Yahoo!: pemakai yang memiliki alamat email @yahoo.co.id atau belasan domain negara lainnya, tidak bisa dikirimi di alamat @yahoo.com (padahal nama usernya sendiri sudah dijamin unik) sehingga menyebabkan sering salah kirim.

Contoh lainnya, menurut saya, Yahoo! seharusnya bisa memanfaatkan YM-nya yang popular untuk membendung Twitter dan Facebook. Bahan-bahan dasarnya sudah ada: basis pengguna yang mencapai ratusan juta, daftar kontak YM yang bisa dipakai sebagai cikal bakal daftar teman dan pengikut, sifat IM yang sudah mirip blogging mikro, dsb. (Perlu dicatat, Yahoo! sebetulnya sempat mencoba eksperimen serupa dengan 360o , menggunakan kontak email sebagai modal dasar untuk layanan jejaring sosial, namun berbagai masalah teknis seperti usability dan antarmuka membuatnya gagal bersaing. Andaikata Facebook jadi dibeli Yahoo! barangkali nasib Facebook juga berbeda.)

Secara umum juga bisa kita lihat, tingkat integrasi layanan-layanan Yahoo! relatif lebih lemah dibandingkan Google, misalnya dari keseragaman antarmuka/tampilan, pola URL, ketersediaan API, dll. Banyak properti mandeg dan tidak dimodernisasi, contoh Yahoo! Groups (walaupun nampaknya properti milis sejenis ini sulit mendatangkan pendapatan sehingga Google pun tidak terlihat terlalu mengurus Google Groups yang terus diradang masalah spam).

Menjawab pertanyaan di judul artikel, Yahoo! tidak akan mengalami kematian, setidaknya tidak dalam waktu dekat (kecuali diakuisisi). Yahoo! telah mencapai massa kritis sejak lama, bak gurita dia pun menguasai banyak area mulai dari konten dan berbagai layanan komunikasi/bisnis. Yahoo! tidak segan membunuh properti gagal/sekarat dan terus memperlengkapi diri dengan properti baru. Hanya saja, jangan mengharapkan produk first class dari Yahoo!. Jumlah properti yang banyak dan kurangnya kekuatan pengembangan membuat properti yang ada tidak bebas berevolusi penuh. Kita harapkan Koprol tidak bernasib serupa. (PCMedia Agu 2010)

Category: PC Media |  2 Comments