Eurax

A little something about you, the author. Nothing lengthy, just an overview.

Buku hardcover impor di Gramedia

Autor stevenharyanto

Di luar negeri, untuk sebuah judul buku nonfiksi baru biasanya edisi hardcover-nya terbit lebih dulu satu hingga beberapa bulan ketimbang edisi paperbacknya. Tujuannya adalah, agar orang yang tidak sabar untuk segera memiliki buku baru dan rela merogoh kocek lebih dalam, bisa segera membelinya. Sementara orang-orang lain yang lebih sensitif harga dipersilakan menunggu sampai paperback-nya keluar. Ini analogi dengan kasus gadget atau prosesor baru yang dibandrol mahal ketika baru keluar, dan lalu turun beberapa minggu-bulan kemudian.

Di toko-toko buku luar, saya mengamati buku-buku nonfiksi yang lebih banyak dipajang adalah yang paperback. Ini wajar, karena rata-rata judul bukan baru lagi, sehingga mayoritas tersedia dalam edisi paperback, bahkan edisi paperback yang murah banget (MMP/pocket books, yang ukurannya lebih kecil dari edisi hard-nya, tidak berilustrasi, kertas daur ulang, dsb). Harganya paling cuma $10-an untuk yang hard-nya sekitar $30-an. Sementara paperback normal bisa $20-an.

Di Kinokuniya atau Aksara kasusnya juga serupa.

Tapi Gramedia beda sendiri. Mayoritas buku nonfiksi impor tersedia hanya dalam hardcover. Kenapa?

Tebakan saya: profil pengunjung Gramedia memang berbeda. Mayoritas pengunjung Gramedia adalah pembaca buku lokal, yang sesekali membeli buku impor untuk koleksi. Tujuan koleksi ini juga lebih masuk akal mengingat harga buku impor yang relatif mahal (di Amrik sana, harga buku hanya sekitar 1-2x makan di MacDonalds atau setara sekitar 1-2 jam upah, sementara harga buku impor di sini bisa untuk 10-20x makan di MacD, 50-100x makan warteg, atau setara dengan berhari-hari upah). Untuk koleksi, edisi hardcover yang lebih cocok. Dan karena itu pulalah Gramedia banyak menyetok buku-buku hardcover lama yang sudah jadi bestseller, macam Predictably Irrational (bosan banget rasanya melihat judul ini bertengger terus sejak lama di salah satu gerai Gramedia Bandung).

Satu hal lagi yang menyebalkan di Gramedia, buku-buku impornya di-shrinkwrap semua. Sulit beli kucing jika hanya boleh membaca tulisan di karungnya. Sementara, Kinokuniya dan Aksara sedikit lebih mahal-mahal harganya (walau berbeda dari judul ke judul). Jadi, triknya, browsing di Aksara, beli di Gramedia :-)

Ah, tapi harga buku yang relatif sangat sangat mahal di Indonesia membuat saya ingin cepat-cepat mendekap Kindle atau Sony PRS. (Yup, Nook tidak masuk hitungan, karena saat ini ASCII-only).

Reader's Comments

  1. Ozzie |

    Mendingan browsing di Amazon mas. Kalau jumlahnya sudah 3 ke atas, tetap lebih murah amazon (sudah termasuk ongkir)

  2. stevenharyanto |

    Dulu saya suka beli juga di toko buku online luar. Tapi, keharusan menunggu 2-3 minggu, keharusan membeli beberapa buku biar irit, dan keharusan berurusan dengan bea cukai yang akhirnya membuat saya tidak pernah beli lagi. Walau alasan nomor 1 sih: ketersediaan buku-buku gratis di P2P :p

  3. arie |

    sperti cara steven yg tampilkan tulisannya di pc media dalam blog setelah beberapa bulan kemudian biar orang yg tak tahan baca, buruan beli pc media baru :)

  4. stevenharyanto |

    @arie: wah saya kurang punya insentif untuk jualan pcmedia, karena hanya penyumbang tulisan saja :-) seringkali malah posting di blog lebih duluan. begitu selesai nulis, sambil sekalian kirim ke penerbit, posting juga di blog. sejauh ini belum dikomplen penerbit :)

  5. idud |

    “Jadi, triknya, browsing di Aksara, beli di Gramedia”

    Ini yang gue demen, nih.

  6. benny |

    pake iPad dong :)

  7. stevenharyanto |

    @benny: Sorry, I prefer freedom, not Apple’s convenience :) iPod kayaknya adalah device Apple terakhir yang gw beli. Btw, udah sempet liat Sony PRS, kok jadi gak bernapsu ya? kayaknya sementara ini tetap download + print dulu deh :)

  8. Surya adi |

    untuk di kota besar cari buku masih enak. saya di batam kesulitan untuk mencari buku. rata - rata buku non fiksi terbitan 4 -5 tahun yang lalu

    note: di batam aku juga belum nemu bukunya om steven. padahal udah nyari di toko buku yang besar loh!!!

  9. stevenharyanto |

    @Surya adi: terima kasih minatnya mas. tapi buku2x saya itu udah lama semua, kayaknya 5-6 tahun umurnya. jadi kemungkinan sudah out of print, lagian out of date, out of style hehehe.

    btw, utk buku impor bukannya enak, tinggal nyebrang ke spore utk belinya…

CommentComment